Artikel
Jumat, 16 Februari 2018
Kamis, 28 Desember 2017
My way
Let's sing "My Way (Female version)" together on #Smule: http://www.smule.com/c/1476427567_1887490928 #SingKaraoke
Kamis, 21 Desember 2017
Jumat, 21 Juli 2017
FINGER PRINT
System Absensi Sekolahan demikian adanya... Apakah ini pertanda sekolah sudah kekinian? yang jelas semua nya harus hati hati jika menentukan suatu kebijakan karena Guru itu menghadapi orang hidup.. Mahluk hidup... Benda hidup... Mereka bukan robot mereka butuh bimbingan yang apik dan menuntut tauladan 24 jam dari seorang guru.. Namun demikian guru juga manusia punya hati punya keluarga punya kewajiban lain selain mendidik di sekolah, dengan artian jika kondisi si guru itu aman tentrem hati nya tidak terzholimi... Tentunya akan menyebarkan aura positif pada generasi yang di didik nya.. Namun sebaliknya jika terlalu banyak masalah apalagi di tambah dengan permasalahan yang tidak jelas job deskripsi nya pergi jam 07,00 pulang jam 16.00 sementara siswa pulang jam 14.00 atau 15.00 itu pun biasanya tidak FULL TIME ..apakah tidak ada kekhawatiran akan menciptakan generasi yang juga akan terkena dampak nya..? GURU... Di GUGU DI TIRU... 1000 siswa.. Di tiap sekolah.. Juga ku rasa akan bergejolak.. Jika guru nya juga bergejolak... KEEPS YA PEMERINTAH TERHADAP GURU MAH BEDA.. Hadapi BENDA HIDUP LOH!! #guru #guruhebat #sekolah #pemerintah #fingerprints #absen #walikotabandung #bandungjuara #pgri
Senin, 02 Mei 2016
Tugas Prof Joshua
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
MAKALAH
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kajian Mandiri
Oleh:
SETIO PRIYONO 158060017
TETY HENDRAWATI 158060019
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS PASUNDAN
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan rahmat, karunia serta petunjuk-Nya yang tidak terbatas, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyususunan makalah ini dengan judul “PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA”
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, hal ini disebabkan karena masih terdapat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan serta pengalaman yang dimiliki penulis. Penulis berharap semua pihak memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun atau memberikan gambaran yang jauh lebih baik untuk penulisan selanjutnya.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang besar khususnya untuk penulis dan umumnya untuk pembaca. Amin.
Tasikmalaya, April 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN i
ABSTRAK ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
Pendahuluan
Pembahasan
Pengembangan Kemampuan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika
Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika
Proses Komunikasi Sebagai Sarana untuk Membelajarkan Matematika
Penutup
DAFTAR PUSTAKA
Pendahuluan
Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Saint (IPTEKS) sangat pesat terutama dalam bidang telekomunikasi dan informasi. Sebagai akibat dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tersebut, arus informasi datang dari berbagai penjuru dunia secara cepat dan melimpah ruah. Untuk tampil unggul pada keadaan yang selalu berubah dan kompetitif ini, kita perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi, kemampuan untuk dapat berpikir secara kritis, sistematis, logis, kreatif, dan kemampuan untuk dapat bekerja sama secara efektif. Sikap dan cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran matematika karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya sehingga memungkinkan siapapun yang mempelajarinya terampil berpikir rasional.
Kemampuan untuk menghadapi permasalahan-permasalahan, baik dalam permasalahan matematika maupun permasalahan dalam kehidupan nyata merupakan kemampuan Daya Matematis (mathematical power). Oleh karena itu bagaimana pembelajaran matematika dilaksanakan sehingga dapat menumbuh kembangkan daya matematis siswa. Selama ini pembelajaran matematika lebih difokuskan pada aspek menghitung yang bersifat sitematis. Pembelajaran matematika hendaknya tidak hanya mencakup berbagai penguasaan konsep matematika, tetapi juga berkaitan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu isu penting dalam pembelajaran matematika saat ini adalah pentingnya pengembangan kemampuan komunikasi matematika siswa. Pengembangan komunikasi juga menjadi salah satu tujuan pembelajaran matematika dan menjadi salah satu standar kompetensi lulusan dalam bidang matematika. Melalui pembelajaran matematika, siswa diharapkan dapat mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah (Permen Nomor 23 Tahun 2006).
Menurut Greenes dan Schulman, komunikasi matematika memiliki peran: (1) kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematika; (2) modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; (3) wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk memperoleh informasi, membagi pikiran dan penemuan, curah pendapat, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan yang lain. Kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu syarat yang memegang peranan penting karena membantu dalam proses penyusunan pikiran, menghubungkan gagasan dengan gagasan lain sehingga dapat mengisi hal-hal yang kurang dalam seluruh jaringan gagasan siswa.
Ketika sebuah konsep informasi matematika diberikan oleh seorang guru kepada siswa ataupun siswa mendapatkannya sendiri melalui bacaan, maka saat itu sedang terjadi transformasi informasi matematika dari komunikator kepada komunikan. Respon yang diberikan komunikan merupakan interpretasi komunikan tentang informasi tadi. Dalam matematika, kualitas interpretasi dan respon itu seringkali menjadi masalah istimewa. Hal ini sebagai salah satu akibat dari karakteristik matematika itu sendiri yang sarat dengan istilah dan simbol. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dalam matematika menjadi sesuatu yang perlu dikembangkan.
Pembahasan
Proses Pengembangan Kemampuan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika
Berbagai upaya untuk mereformasi pembelajaran matematika telah dilakukan berbagai pihak, termasuk organisasi-organisasi seperti National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). Salah satu isu penting yang menjadi fokus perhatian berbagai organisasi tersebut adalah pengembangan aspek komunikasi dalam pembelajaran matematika. Terkait dengan komunikasi matematik, dalam Principles and Standards for School Mathematics (NCTM, 2000) disebutkan bahwa standar kemampuan yang seharusnya dikuasai oleh siswa adalah sebagai berikut.
Mengorganisasi dan mengkonsolidasi pemikiran matematika dan mengkomunikasikan kepada siswa lain
Mengekspresikan ide-ide matematika secara koheren dan jelas kepada siswa lain, guru, dan lainnya.
Meningkatkan atau memperluas pengetahuan matematika siswa dengan cara memikirkan pemikiran dan strategi siswa lain.
Menggunakan bahasa matematika secara tepat dalam berbagai ekspresi matematika.
Komunikasi matematik juga merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika dan menjadi salah satu standar kompetensi lulusan siswa sekolah dari pendidikan dasar sampai menengah sebagaimana tertuang dalam Permen 22 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan dalam bidang matematika yang secara lengkap disajikan sebagai berikut.
Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.
Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain.
Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Terdapat beragam bentuk komunikasi matematik (LACOE, 2004), misalnya (1) merefleksi dan mengklarifikasi pemikiran tentang ide-ide matematika, (2) menghubungkan bahasa sehari-hari dengan bahasa matematika yang menggunakan simbol-simbol, (3) menggunakan keterampilan membaca, mendengarkan, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide matematika, dan (4) menggunakan ide-ide matematika untuk membuat dugaan (conjecture) dan membuat argumen yang meyakinkan.
Komunikasi matematik mencakup komunikasi tertulis maupun lisan atau verbal (LACOE, 2004). Komunikasi tertulis dapat berupa penggunaan kata-kata, gambar, tabel, dan sebagainya yang menggambarkan proses berpikir siswa. Komunikasi tertulis juga dapat berupa uraian pemecahan masalah atau pembuktian matematika yang menggambarkan kemampuan siswa dalam mengorganisasi berbagai konsep untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan komunikasi lisan dapat berupa pengungkapan dan penjelasan verbal suatu gagasan matematika. Komunikasi lisan dapat terjadi melalui interaksi antarsiswa misalnya dalam pembelajaran dengan setting diskusi kelompok.
Peranan Guru dalam Proses Pengembangan Kemampuan Komunikasi dalam Pembelajaran Matematika
Guru mempunyai peran penting dalam merancang pengalaman belajar di kelas sedemikian sehingga siswa mempunyai kesempatan bervariasi untuk berkomunikasi secara matematis. Tugas menulis merupakan salah satu cara untuk membentuk kecakapan komunikasi matematik. Tugas menulis diartikan sebagai tugas bagi siswa untuk mengorganisasi, merangkum, dan mengkomunikasikan pemikiran mereka secara tertulis. Menulis dapat meningkatkan daya ingat mengenai konsep dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksi pemikiran mereka. Tugas menulis dapat juga mencakup pengungkapan apa yang sudah diketahui/dipahami dan yang belum dipahami siswa. Selain itu, tugas menulis dapat pula berupa penyelesaian masalah. Penyelesaian masalah melibatkan beberapa kemampuan strategis seperti mengkoordinasikan berbagai informasi atau ide-ide matematika dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
Cara lain yang dipandang tepat untuk mengembangkan kemampuan komunikasi matematik siswa adalah berdikusi kelompok (LACOE, 2004). Diskusi kelompok memungkinkan siswa berlatih untuk mengekspresikan pemahaman, memverbalkan proses berpikir, dan mengklarifikasi pemahaman atau ketidakpahaman mereka. Dalam membentuk diskusi kelompok perlu diperhatikan beberapa hal, misalnya jenis tugas seperti apa yang memungkinkan siswa dapat mengeksplorasi kemampuan matematiknya dengan baik. Selain itu perlu dirancang pula peran guru dalam diskusi kelompok tersebut.
Dalam proses diskusi kelompok, akan terjadi pertukaran ide dan pemikiran antarsiswa. Hal ini akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pemahaman matematiknya. Percakapan antarsiswa dan guru juga akan mendorong atau memperkuat pemahaman yang mendalam akan konsep-konsep matematika. Ketika siswa berpikir, merespon, berdiskusi, mengelaborasi, menulis, membaca, mendengarkan, dan menemukan konsep-konsep matematika, mereka mempunyai berbagai keuntungan, yaitu berkomunikasi untuk belajar matematika dan belajar untuk berkomunikasi secara matematik (NCTM, 2000). Hal demikian dapat diartikan bahwa proses komunikasi yang baik memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuan matematikanya.
Proses komunikasi akan terjadi apabila terjadi interaksi dalam pembelajaran. Guru perlu merancang pembelajaran yang memungkinkan terjadinya interaksi positif sehingga memungkinkan siswa dapat berkomunikasi dengan baik. Guru dapat memberikan beberapa pertanyaan-pertanyaan pemicu bagi tumbuhnya kemauan dan kemampuan berkomunikasi siswa. Terdapat beberapa teknik bertanya yang dapat digunakan membantu siswa mengembangkan kemampuan komunikasi matematik (LACOE, 2004). Berikut contoh-contoh pertanyaan yang dapat diajukan kepada siswa.
Membantu siswa bekerja sama agar memiliki sense matematika, yaitu dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
Apakah yang orang lain pikirkan tentang yang kamu katakan?
Apakah kamu setuju? Tidak setuju?
Apakah setiap orang mempunyai jawaban yang sama tetapi mempunyai cara berbeda untuk menjelaskannya?
Apakah kamu memahami apa yang mereka katakan?
Membantu siswa menyadari benar tidaknya suatu ide matematika, yaitu dengan mengajukan seperti berikut.
Mengapa kamu berpikir seperti itu?
Mengapa hal itu benar?
Bagaimana kamu menyimpulkan hal itu?
Dapatkah kamu membuat sebuah model untuk menunjukkan hal itu?
Membantu siswa mengembangkan penalaran, yaitu dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
Apakah hal itu selalu berlaku untuk kondisi lain?
Apakah hal itu benar untuk semua kasus?
Bagaimana kamu membuktikan hal itu?
Asumsi-asumsi apakah yang digunakan?
Membantu siswa membuat dugaan, penemuan, dan penyelesaian masalah, yaitu dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
Apa yang terjadi jika ...? Bagaimana jika tidak?
Dapatkah kamu melihat polanya?
Dapatkah kamu mempredisksi pola berikutnya?
Apakah persamaan dan perbedaan metode penyelesaianmu dengan temanmu?
Membantu siswa menghubungkan ide-de matematika dan aplikasinya, yaitu dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
Apakah hubungannya dengan konsep lain?
Ide-ide matematika apakah yang harus dipelajari sebelum digunakan untuk menyelesaikan masalah?
Apakah kamu pernah menyelesaikan masalah seperti ini sebelumnya?
Dapatkah kamu memberikan sebuah contoh tentang ....
Menurut Goetz (2004), mengembangkan kemampuan komunikasi matematik tidak berbeda jauh dengan mengembangkan kemampuan komunikasi pada umumnya. Berikut pendapat dan saran yang dikemukakannya terkait pengembangan komunikasi matematik siswa khususnya kemampuan komunikasi tertulis.
Menggunakan teknik brainstorming (curah pendapat) untuk mengawali proses pembelajaran. Curah pendapat dapat mencakup pengungkapan sejumlah konsep yang mungkin diperlukan untuk mengkomunikasikan ide-ide matematika. Daftar kata atau konsep tersebut dapat ditempatkan di dinding yang memungkinkan siswa dapat mengaksesnya dengan mudah.
Ketika siswa menulis dalam seni bahasa, mereka hendaknya berpikir tentang kepada siapa tulisan itu ditujukan. Hal ini juga hendaknya terjadi dalam membuat tulisan dalam matematika. Apabila tugas menulis digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa, mereka hendaknya mengetahui bahwa pembaca tulisan mereka adalah guru atau sekelompok penilai yang belum mereka ketahui. Dengan demikian, siswa harus menuliskan dengan jelas berbagai informasi yang relevan sehingga mudah dipahami.
Memberikan kesempatan kepada siswa terlebih dahulu untuk mengungkapkan ide- ide secara verbal sebelum menuliskannya. Hal yang demikian akan meningkatkan kedalaman dan kejelasan tulisan mereka.
Memberi kesempatan kepada siswa untuk menggambarkan ide-ide kuncinya. Selanjutnya meminta siswa untuk mendeskripsikan ide-ide mereka dalam bentuk gambar. Hal ini merupakan strategi penting dalam membantu siswa memulai menulis dalam kelas matematika. Dorong siswa untuk menggambar solusi masala h mereka. Kemudian minta siswa untuk menambah beberapa kata yang memungkinkan dapat mendeskripsikan gambar siswa. Hal ini dilakukan berulang hingga siswa merasa berhasil dan yakin untuk dapat menuliskan ide-ide mereka secara tertulis secara langsung.
Mendorong dan memberi kesempatan kepada siswa untuk merevisi dan membetulkan tulisan mereka.
Melakukan refleksi. Refleksi merupakan kunci pemahaman. Tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan refleksi, misalnya memikirkan apa yang sudah dan belum dipahami, pembelajaran matematika hanya merupakan sederet aktivitas yang rutin dan mekanistik.
Proses Komunikasi Sebagai Sarana untuk Membelajarkan Matematika
Uraian terdahulu menjelaskan mengenai pengembangan kemampuan komunikasi dalam pembelajaran matematika. Di sisi lain, proses komunikasi yang terjalin dengan baik dapat membantu siswa membangun pemahamannya terhadap ide-ide matematika dan membuatnya menjadi lebih mudah dipahami. Ketika siswa ditantang untuk berpikir mengenai matematika dan mengkomunikasikannya kepada orang/siswa lain, secara lisan maupun tertulis, secara tidak langsung mereka dituntut untuk membuat ide-ide matematika itu lebih terstrukur dan menyakinkan, sehingga ide-ide itu menjadi lebih mudah dipahami, khususnya oleh diri mereka sendiri. Dengan demikian, proses komunikasi akan bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan pemahamannya mengenai konsep-konsep matematika.
Pembelajaran matematika perlu dirancang sedemikian sehingga dapat menstimulasi siswa untuk berkomunikasi dengan baik. Proses komunikasi yang baik ini diharapkan dapat menstimulasi siswa untuk mengembangkan berbagai ide-ide matematika atau membangun pengetahuannya. Hal demikian tidak akan terjadi apabila dalam pembelajaran matematika, semua siswa menggunakan pendekatan yang sama untuk menemukan suatu solusi tunggal dari masalah yang diberikan. Jawaban dan strategi yang tunggal terhadap suatu masalah kurang mendorong siswa untuk saling berkomunikasi karena masing-masing siswa akan lebih memfokuskan diri pada strategi mereka sendiri. Sebaliknya, jika siswa menggunakan berbagai pendekatan yang berbeda dalam menemukan solusi, maka akan memungkinkan mereka untuk bertukar ide dan menjelaskan ide-ide mereka. Dalam situasi demikian, proses komunikasi akan terjadi dengan baik. Dalam konteks demikian, penggunaan masalah terbuka (open-ended problem) menjadi sangat relevan dalam pembelajaran matematika dengan maksud untuk mengembangkan kemampuan komunikasi matematik sekaligus menstimulasi siswa untuk mengembangkan ide-ide matematikanya.
Menurut Takahashi (2006), masalah terbuka (open-ended problem) adalah masalah atau soal yang mempunyai banyak solusi atau strategi penyelesaian. Pada mulanya, penggunaan masalah terbuka merupakan hasil dari proyek penelitian pengembangan metode evaluasi keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pendidikan matematika dari tahun 1971 sampai 1976. Meskipun proyek ini dimaksudkan untuk mengembangkan teknik evaluasi keterampilan berpikir siswa, tetapi selanjutnya peneliti menyadari bahwa pembelajaran matematika yang menggunakan masalah terbuka mempunyai potensi yang kaya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Peneliti merangkum manfaat dalam menggunakan masalah terbuka dalam pembelajaran matematika sebagai berikut.
Siswa menjadi lebih aktif dalam mengekspresikan ide-ide mereka dalam pembelajaran matematika.
Siswa mempunyai banyak kesempatan untuk secara komprehensif menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka.
Siswa mempunyai pengalaman yang kaya dalam proses menemukan dan menerima persetujuan dari siswa lain terhadap ide-ide mereka.
Dengan menggunakan masalah terbuka, pembelajaran matematika dapat dirancang sedemikian sehingga lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kompetensi mereka dalam menggunakan ekspresi matematik (Takahashi: 2006). Dalam upaya menemukan berbagai alternatif strategi atau solusi suatu masalah, siswa akan menggunakan segenap kemampuannya dalam menggali berbagai informasi atau konsep-konsep yang relevan. Hal demikian akan mendorong siswa menjadi lebih kompeten dalam memahami ide-ide matematika. Hal demikian tidak akan terjadi apabila dalam pembelajaran yang hanya menggunakan soal tertutup yang hanya merujuk pada satu jawaban dan strategi penyelesaian. Penggunaan soal tertutup kurang mendorong siswa untuk mengeksplorasi berbagai ide-ide matematikanya, sehingga kurang memungkinkannya untuk secara efektif digunakan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematika sekaligus membangun pemahaman matematik siswa. Berikut diberikan beberapa contoh soal terbuka yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi matematik siswa.
Tabel 1. Contoh soal tertutup dan soal terbuka
Penutup
Mengingat begitu pentingnya kemampuan komunikasi, maka pembelajaran matematika perlu dirancang dengan baik sehingga memungkinkan dapat menstimulasi siswa dalam mengembangkan kemampuan komunikasinya. Proses komunikasi yang baik berpotensi dalam memicu siswa untuk mengembangkan ide-ide dan membangun pengetahuan matematikanya. Hal demikian akan terjadi dalam pembelajaran matematika yang memanfaatkan masalah terbuka. Dalam upaya menemukan berbagai strategi atau solusi suatu soal terbuka, siswa didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan atau ide-ide yang relevan. Dengan cara demikian, siswa akan menjadi lebih kompeten dalam memahami konsep-konsep matematika. Secara singkat dapat dikatakan bahwa proses komunikasi yang memanfaatkan masalah terbuka dan dirancang dengan baik diharapkan dapat mendorong siswa memahami materi matematika dengan baik juga.
Daftar Pustaka
Goetz, Jane. (2004). Top Ten Thoughts about Communication in Mathematics.http://www.kent.k12.wa.us/KSD/15/Communication_in_math.htm.
LACOE (Los Angeles County Office of Education). (2004). Communication. http://teams.lacoe.edu.
NCTM. (2000). Principles and Standards for School Mathematics. Reston: NCTM Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan.
Takahashi, Akihito. (2006). Communication as A Process to for Students to Learn Mathematical. http://www.criced.tsukuba.ac.jp/math/apec/apec2008/ papers/PDF/14.Akihiko_Takahashi_USA.pdf..
Tugas kelompok
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL KELAS VII SMP NEGERI 42 BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2016/2017
DISUSUN OLEH :
LILIS KARTIKA (158060006)
SRI WINGGOWATI (158060014)
ARIS JUNIA PERMANA (158060030)
DUDI PERMANA
MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik (Nana Syaodih, 2011:24).Pendidikan mempunyai pengaruh besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Secara otomatis pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas baik sehingga akan mendorong ilmu pengetahan dan teknologi suatu bangsa ke arah yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya fakta bahwa negara yang maju memiliki tingkat pendidikan yang lebih maju dibanding dengan negara berkembang.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 42 Bandung, baik yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun yang berasal dari luar siswa. Faktor dari dalam diri siswa misalnya motivasi belajar, minat belajar, siskap terhadap matematika serta kemampuan berfikir konvergen dan divergen, sedang faktor yang berasal dari luar misalnya kemampuan guru dalam mengelola proses belajar, sarana belajar dan lingkngan pendukung. Berdasarkan kenyataan diatas kiranya perlu diamati permasalahan mengenai kesulitan siswa terhadap materi matematika, khususnya materi aritmatika social.
Pemanfaatan Model Pembelajaran sebagai kelengkapan kerja guru harus terus didorong sebab sudah mendesak sifatnya.Keberhasilan penggunaan Model pembelajaran sangat tergantung kemampuan guru dalam menganalisi materi pembelajaran dan kemampuan mengkreasikan materi tersebut kedalam bentuk audiovisual dan grafis.Pemanfaatan Model Pembelajaran mempersingkat tenggang waktu pencapaian sasaranndanntujuannpendidikan.
Sesuai dengan uraian diatas maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISIWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL KELAS VII SMP NEGERI 42 BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2016/2017.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial Kelas VII Smp Negeri 42 Bandung Tahun Pelajaran 2016/2017
Bagaimana aktivitas siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial?
Apakah penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial dapat membuat siswa senang belajar matematika ?
Kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial?
Bagaimana peningkatan kemampuan siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial ?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial dapat meningkat. Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
Memperoleh gambaran bagaimana aktivitas siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
Memperoleh gambaran Apakah penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
Memperoleh gambaran kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
Memperoleh gambaran bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
E.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah sebagai berikut:
1.Manfaat bagi Guru
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk memperbaiki dan peningkatan layanan guru dalam proses belajar, maka diharapkan setelah melakukan penelitianini guru dapat mengetahui kelemahan selama mengajar pada pembelajaran matematika dan dapat memperbaiki rancangan kegiatan proses belajar mengajar. Sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa. Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial dapat dijadikan sebagai pendekatan alternatif bagi pembelajaran Matematika khususnya tentang soal-soal cerita pemecahan masalah matematika Sekolah Menengah Pertama agar konsep Matematika yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami siswa.
2. Manfaat bagi Siswa
Model Pembelajaran yang diterapkan guru di dalak kelas dapat berimbas pada meningkatnya pemahaman konsep soal yang mengandung pemecahan masalah matematika Sekolah Menengah Pertama serta meningkatnya minat dan kreatifitas siswa
3.Manfaat bagi sekolah
Hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah khusunya pembelajaran matematika.Selain itu dapat digunakan sebagai contoh dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan pembelajaran matematika di sekolah.
F. Hipotesis Tindakan
Jika siswa memperoleh pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial maka pemahaman konsep dan keterampilan siswa akan meningkat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
2.1.1.Pengertian Project Based Learning
Menurut Buck Institute for Education (BIE) (dalam Khamdi, 2007) “Project Based Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan siswandalamnkegiatannpemecahannmasalahndannmemberinpeluangnsiswabekerjansecaranotonomnmengkonstruksinbelajarnmerekansendiri,dannpuncaknya menghasilkan produkkarya siswabernilaidanrealistik.
ProjectnbasednLearning (PBL) is a model for classroom activity thats hifts away from the usual classroom practices of short, isolat, teacher-centred lessons. PBL learning activities are long-term, inter disciplinary, student-centred, and integrated with real-world issues and practices (Pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah model kegiatan dikelas yang berbeda dengan biasanya. Kegiatan pembelajaran PBL berjangka waktu lama, antar disiplin, berpusat pada siswa dan terintegrasi dengan masalah dunia nyata,Harun,2006).
Jadi, Project Based Learning merupakan pembelajaran inovatif yang
Berpusat pada siswa (studentcentered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana siswa diberi peluang bekerja secara otonom mengkonstruksi belajarnya. Project Based Learning sangat cocok dipadukan dengan materi koloid. Berdasarkan kegiatan pembelajaran dalam silabus, materi koloid menuntut siswa untuk aktif (studentcentered) sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator, siswa bekerjasama dengan berbagai percobaan seperti percobaan pengelompokan berbagai sistem koloid, percobaan sifat-sifat koloid secara kelompok dan percobaan pembuatan koloid. Selain itu materi koloid juga sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga banyak peluang untuk mengajak
siswa berpikir kritis dan kreatif mengenai masalah nyata yang akan diangkat dalam Project Based Learning.
1.1.1. Ciri ciri Project Based Learning
BIE (dalam Susanti, 2008) menyebutkan ciri-ciri Project Based Learning diantaranya adalah: isi, kondisi, aktivitas dan hasil. Keempat ciri-ciri itu adalah sebagai berikut:
1. Isi
Difokuskan padaide-idesiswayaitudalammembentukgambaran sendiribekerjaatastopik-topikyangrelevan danminatsiswayang seimbangdenganpengalamansiswasehari-hari.Padamateri koloid masalahnyatayangdiangkatharuslahdifokuskan padapengalaman siswa sehari-hari.
2. Kondisi
Maksudnya adalah kondisi untuk mendorong siswa mandiri, yaitu dalam mengelola tugas danwaktu belajar. Sehingga dalam belajarmaterikoloid siswa mencarisumber informasi secara mandiridari berbagaireferensisepertibukumaupunintenet.
3. Aktivitas
Adalahsuatustrategi yangefektifdanmenarik,yaitudalammencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan memecahkan masalah- masalahmenggunakankecakapan.Aktivitasjugamerupakanbangunan dalammenggagaspengetahuan siswadalammentransferdan menyimpaninformasidenganmudah.Padamateri koloid,siswa dituntutuntukaktif,menggunakan kecakapanuntukmemecahkanmasalahdanberbagaitujuanbelajar yangingindicapai.Dilihatdari kegiatan pembelajaran dalam silabus, materi koloid sangat menekankanaktifitassiswa.
4. Hasil
Hasil disiniadalahpenerapanhasilyangproduktif dalammembantu siswamengembangkankecakapanbelajardanmengintegrasikandalam belajaryangsempurna,termasukstrategi dankemampuanuntuk mempergunakankognitifstrategipemecahanmasalah.Jugatermasuk kecakapan tertentu, disposisi, sikap dan kepercayaan yang dihubungkandenganpekerjaanproduktif,sehinggasecara efektifdapatmenyempurnakantujuanyangsulituntukdicapaidenganmodel-model pengajaran yanglain.1.1.2. Komponen-komponen ProjectBased Learning
Komponen-komponenProject BasedLearningmeliputibeberapahal:
1. Isi kurikulum
Guru dansiswabertanggungjawabatasdasarstandardantujuanyang jelasserta mendukungproses belajar.
2. Komponen multimedia
Siswadiberikesempatanuntukmenggunakanteknologi secaraefektif sebagaialatdalamperencanaan, perkembanganataupenyajianproyek.
3. Komponenpetunjuk siswa
Dirancang untuk siswa dalam membuat keputusan, berinisiatifdan memberimateriuntukmengembangkandanmenilaipekerjaannya.
4. Bekerjasama
Memberi siswa kesempatan bekerjasama diantara siswa maupun denganguru serta anggotakelompokyanglain.
5. Komponen hubungandengandunianyata
ProjectBasedLearningdihubungkandengan dunia nyata menujupersoalanyangrelevanuntukkehidupansiswaataukelompokdanjuga komunikasidengandunialuarkelasmelaluiinternet,serta bekerjasama dengananggotakelompok.
6. Kerangkawaktu
Memberisiswakesempatanmerencanakan,merevisi,membayangkan pembelajarannyadalamkerangkawaktuberpikiruntukmateri dan waktuyangmendukungpembelajarantersebut.
7. Penilaian
Proses penilaiandilakukansecaraterusmenerusdalam setiap pembelajaran,seperti menilaiguru, teman,menilaidanmerefleksidiri.
2.1.4. DukunganteoritisProjectBasedLearning
Secara teoritis dan konseptual, pembelajaran berbasis proyek juga didukung olehteoriaktivitas.Activitytheorymenyatakanbahwastrukturdasar suatukegiatanterdiriatas: (a) tujuanyangingindicapai, (b) subjekyangberada
dalamkonteks, (c) suatumasarakatdimanapekerjaanitu dilakukan dengan perantaraan, (d)alat-alat, dan (e) peraturan kerjadanpembagiantugas.Dalam penerapannyadikelasbertumpupadakegiatanbelajaraktif dalambentuk melakukan sesuatu (doing) daripada kegiatan pasifmenerima transfer pengetahuandariguru(Wena,2010).
Pembelajaranberbasisproyekjugadidukungoleh teori belajar konstruktivistik, yangbersandarpadaidebahwa siswamembangun pengetahuannyasendiri didalamkontekspengalamannyasendiri.Pembelajaran berbasisproyekdapatdipandangsebagai salahsatupendekatanpenciptaan lingkunganbelajaryangdapatmendorongsiswamengkonstruk pengetahuandan keterampilan secara personal. Ketika pembelajaran berbasis proyekdilakukan dalammodelbelajarkolaboratif dalamkelompokkecilsiswa,pembelajaran berbasisproyekjugamendapatdukungan teoritisyangbersumberdari konstruktivismesosialVygotsky yangmemberikanlandasanpengembangan kognitifmelalui peningkatanintensitasinteraksiantarpersonal.Adanyapeluang untukmenyampaikanide,mendengarkan ide oranglain,danmerefleksikanide sendiri padaoranglain,adalahsuatubentukpembelajaranindividu.Proses interaktifdengankawansejawatmembantuproseskonstruksi pengetahuan.Dari perspektifteori inipembelajaranberbasisproyekdapatmembantusiswa meningkatkan keterampilandanmemecahkanmasalahsecarakolaboratif (Wena,2010).
2.1.5. Tahap-TahapProjectBasedLearning
1. Menentukanproyekyangakandilakukan
Pada tahap ini guru memberikan proyek kepada siswa, menentukan batasan-batasandanmenentukan tujuanutamadari proyek.Proyekyang akandilakukanterkaitdenganmaterikoloidyaitu prosespenjernihanair.
2. Menentukankerangkawaktuprosespenjernihanair
Tahapinimerupakan tahapmenentukanberapalamaproyekakan dikerjakan,memeriksatujuan proyekyangakanditelitidanmenyediakan tempat yang sesuai untuk proyek. Penentuan kerangka waktu proye
disesuaikan dengan persiapan pencarian referensi pendukung materi koloidterutama yang berhubungandenganprosespenjernihanair, dan penyediaanalatdanbahanyangdibutuhkandalamprosespenjernihanair,
3. Merencanakankegiatanapayangakandilakukan
Padatahapini gurumemilihbeberapakegiatanyangsesuai, menggambarkankegiatanyangakan dilakukan olehsiswa.Guru memberikan gambaran proses penjernihan airsecararingkasselanjutnya siswa mencari sendiri informasi yang dibutuhkannya mengenaiproses penjernihanairserta kaitannyadengansifat-sifatkoloid.
4. Merencanakanpenilaian
Setelah siswa melakukan kegiatan pada tahapan ini nantinya guru meninjauataumenuliskanbeberapa tujuanpenilaian,merencanakan alat- alat penilaian apa saja yang akan digunakan, menambahkan penilaian dalamkerangkawaktu. Penilaianini jugamencakuppenguasaanmateri koloidolehsiswaterutamayangberhubungan denganprosespenjernihan airsepertisifatkoloidadsorpsidankoagulasi.
5. Memulaiprosespenjernihanairdengansiswa
Tahapiniadalahtahappengerjaan proses penjernihanairdengan mendiskusikan tujuan dikelas,melaksanakan,melihatdanmendengarkan pekerjaan apa yang dilakukan, mengingatkan siswa untuk tidak membuang-buang waktupengerjaanproyek,menambah ataumengurangi kegiatan untukmemperkuatkecakapandalamkelompokdankecakapan dalammengelola danmendiskusikanbeberapaperbaikan.
6. Gambaranakhirprosespenjernihanair
Tahapinimemberikanhasilakhirdalamsuatuforum khusus,yaitu mendiskusikan ataumenuliskanhal-halyangpentingdariproses penjernihanair,menganjurkan perbaikanuntukprosespenjernihan selanjutnya.
2.1.6.KelebihanProjectBasedLearning
ProjectBasedLearningadalahpenggerakyangungguluntukmembantu siswabelajarmelakukantugas-tugasotentikdanmultidisipliner,menggunakan
sumber-sumberyangterbatassecaraefektifdanbekerjadengan oranglain. Pengalamandilapanganbaikdari gurumaupun siswabahwaProjectBased Learningmenguntungkandanefektifsebagaipembelajaranselainitumemilki nilai tinggidalam peningkatankualitas belajar siswa. Anatta (dalam Susanti,
2008)menyebutkanbeberapakelebihandariProjectBasedLearning diantaranya sebagaiberikut:
1. Meningkatkanmotivasi,dimanasiswatekun danberusahakerasdalam mencapai proyekdanmerasabahwabelajardalamproyeklebih menyenangkandaripadakomponenkurikulumyanglain.
2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dari berbagai sumber yangmendeskripsikanlingkungan belajarberbasisproyekmembuatsiswa menjadilebihaktifdanberhasilmemecahkanproblem-problem yang kompleks.
3.Meningkatkan kolaborasi,pentingnyakerjakelompokdalamproyek memerlukansiswamengembangkan danmempraktikanketerampilan komunikasi. Teori-teorikognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskanbahwabelajaradalahfenomenasosial,danbahwa siswaakan belajarlebihdidalamlingkungankolaboratif.
4. Meningkatkanketerampilan mengelola sumber, bila diimplementasikan secarabaikmakasiswaakanbelajardan praktikdalammengorganisasi proyek,membuatalokasi waktudansumber-sumberlainseperti perlengkapanuntukmenyelesaikantugas.
2.1.7.KekuranganProjectBasedLearning
Menurut (Susanti, 2008) berdasarkan pengalaman yang ditemukan di lapanganProject BasedLearning memilikibeberapakekurangandiantaranya:
1. Kondisi kelas agak sulit dikontrol dan mudah menjadi ribut saat pelaksanaan proyekkarenaadanya kebebasanpadasiswasehingga memberi peluanguntukributdanuntukitudiperlukannyakecakapanguru dalampenguasaandanpengelolaankelasyangbaik
2. Walaupunsudahmengaturalokasiwaktuyangcukupmasihsaja memerlukan waktuyanglebihbanyakuntukpencapaianhasilyang maksimal.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas(Classroom Action Research). Menurut (Arikunto dkk, 2011: 58) “PTK adalah
penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuanmemperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran”.Igak Wardani (2012) menyatakan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukanoleh guru di dalam kelas sendiri melalui refleksi, dengan tujuan untukmemperbaiki kinerja sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadimeningkat.Sedangkan menurut (Wiriaatmadja,2008:13) Penelitian Tindak Kelasadalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktekpembelajaran mereka dan melihat pengaruh nyatadari upaya itu. PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan yang menurut (Arikunto dkk,2011: 61) bertujuan untuk “meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran,mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, danmenumbuhkan budaya akademik”
Ciri khas dari PTK Menurut (Arikunto dkk, 2011:62) diantaranya adalah :
PTK merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru.
Hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoritis atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran pembelajaran dikelas.
PTK hendaknnya dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di kelas.
Adannya kolaborasi antara praktisi (guru,kepala sekolah, siswa dll) dan penelitidalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusanyang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan.
PTK dilakukakan hanya apabila ada (a) keputusan kelompok dan komitmenuntuk pengembangan, (b) meningkatkan profesionalisme guru, (a) alas an pokok: ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan dan (d) bertujuanmemperoleh pengetahuan dan/atau sebagai pemecahan masalah.
Secara singkat, Penelitian Tindak Kelas adalah penelitian yang dilakukan guru atau praktisi yang memiliki tujuan memperbaiki pembelajaran di kelas serta meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.Mutu pembelajaran dapat dilihat dari meningkatnya pemahaman konsep siswa.Pemahaman konsep yang meningkat dapat diukur dari hasil tes formatif, sub-sumatif dan sumatif.Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatan pemahaman konsep dan keterampilan pemecahan masalah matematika siswa dengan menerapkan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan profesionalisme guru SDdalam meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di SMP, serta mampu menjalin kemitraan antara peneliti dengan guru SMP dalam memecahkan masalahyang terjadi dalam proses kegiatan belajar mengajar Matematika di kelas.
B. Setting Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di SMP Negeri 42 Bandung.
Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Nopember hingga bulan Desember 2015
Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 42 Bandung Tahun Pelajaran 2015/2016. sebanyak 32 orang siswa, terdiri dari 17 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki.
Jadwal Penelitian
C. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dirancang untuk dilaksanakan dalam 2 siklus.Siklus I dirancang untuk dilaksanakan dalam dua kali pertemuan kegiatan belajar mengajar (@3x35 menit) dan satu pertemuan untuk tes siklus di akhir pertemuan.
Siklus II dirancang untuk dilaksanakan dalam dua kali pertemuan kegiatan belajar mengajar (@3x35 menit) dan satu pertemuan untuk tes siklus diakhir pertemuan .Setiap siklus dijalankan dalam 4 tahap, yaitu perencanaan (Planning), pelaksanaan (Acting), pengamatan (Observing), dan refleksi (Reflecting).
Siklus I
1.Tahap Perencanaan
Membuat kesepakatan dengan guru (rekan sejawat) sebagai observer dan memberikan penjelasan kepada observer tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh observer dan penjelasan tentang intisari dari instrument lembar observasi yang harus diisi oleh observer.
Mengajukan permohonan izin penelitian kepada Kepala SDPN Pajagalan 58, KecamatanAstanaanyar, Kota Bandung .
Menetapkan subpokok bahasan yang akan digunakan dalam penelitian.
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika denganmenerapkan model pembelajaran Discovery Learning,
Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS)
Menyiapkan instrumen tes tertulis berupa lembar soal tes siklus I.
Menyiapkan instrumen non tes berupa lembar pengamatan siswa dan guru dalam pembelajaran.
2.Tahap Pelaksanaan
Memberikan lembar observasi kepada observer untuk diisi.
Melaksanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran discovery Learning
Melakukan tes siklus I untuk mendapatkan data mengenai pemahaman konsepdan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah matematika sekolah dasar dalam pembelajaranMatematika dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning.
Mencatat dan merekam semua aktivitas belajar yang terjadi oleh pengamatpada lembar observasi sebagai sumber data yang akan digunakan pada tahap refleksi.
Diskusi dengan pengamat untuk mengklarifikasi hasil pengamatan padalembar observasi.
3.Tahap Pengamatan
Observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan kontekstual.
Observer mengisi lembar observasi.
4.Tahap Refleksi
Peneliti melakukan analisis terhadap semua data yang dikumpulkan dari penelitian tindakan pada siklus I. Setelah hasil pemahaman konsep siswa danpengamatan observer telah dikaji, selanjutnya pada siklus II, peneliti mengulang kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I. Temuan pada tahap refleksi pada siklus
I digunakan untuk memperbaiki RPP dan pembelajaran pada siklus II.
Siklus II
1. Tahap Perencanaan
Menginventarisir kekuatan dan kelemahan pada siklus I untuk dijadikanbahan perbaikan pada pelaksanaan siklus II.
Menetapkan sub pokok materi.
Membuat rencana pembelajaran dengan memperhatikan refleksi pada siklus I.
Menyiapkan media, alat peraga dan sumber pembelajaran.
Merancang kegiatan yang lebih variatif dalam LKS.
Menyiapkan instrumen tes siklus II.
Menyiapkan lembar pengamatan siswa dan guru dalam pembelajaran.
2. Tahap Pelaksanaan
Melaksanakan kegiatan pembelajaran siklus II sesuai dengan RPP yang telah disusun dengan mempertimbangkan perbaikan-perbaikan pada siklus I.
Melakukan tes siklus II untuk mendapatkan data hasil penigkatan pemahaman konsep siswa pada siklus II.
Mencatat dan merekam semua aktivitas belajar siswa sebagai sumber data yang akan digunakan pada tahap refleksi.
Diskusi dengan pengamat untuk mengklarifikasi data hasil pengamatan pada lembar observasi.
3. Tahap Pengamatan
Kegiatan pengamatan pada sikus II relatif sama dengan siklus I yaitu:
Mencatat dan merekam aktivitas belajar siswa oleh pengamat melalui lembar observasi.
Peneliti menyesuaikan apakah kegiatan yang dilakukan pada siklus II ini sudah sesuai dengan yang diharapkan.
4. Tahap Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan dikumpulkan untuk dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti, untuk mendapatkan suatu simpulan. Diharapkansetelah akhir siklus II ini, pemahaman konsep dan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika penerapanmodel pembelajaran Discovery Learning Kelas VISDPN Pajagalan 58 Kecamatan Astanaanyar Kota Bandung tahun pelajaran 2015/2016dapat meningkat.
5.Membuat Kesimpulan Hasil Penelitian
Setelah semua proses selesai dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan yang mengacu pada hasil penelitian dan pembahasan.
D.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrument bentuk tes tertulis, RPP, LKS dan lembar observasi.
1.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP yang digunakan dalam penelitian kali ini ada dua, di mana setiap siklus terdiri dari satu RPP yang memiliki satu kali pertemuan(3@35 menit).RPP yang disusun disesuaikan dengan Kompetensi Dasar (KD).
2.Lembar Kerja Siswa(LKS)
LKS merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah dalam pembelajaran sehingga akan terbentuk aktivitas dan interaksi yang efektif antarasiswa dan guru.Dengan adanya LKS maka siswa akan mengalami kegiatan proses berpikir yang akan meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. LKS yangdigunakan dalam penelitian ini adalah LKS mata pelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.Setiap siklus memiliki satu kali LKS yang akan dipraktikkan oleh siswa.
3.Lembar Observasi
Obsevarsi yang dilakukan pengamat adalah melihat kegiatan belajar mengajar guru dan siswa pembelajaran Matematika dalam menerapkan model pembelajaran Discovery Learning.Lembar obeservasi yang digunakan berbentuk lembar observasiterbuka yang harus diisi oleh pengamat secara naratif pada kolom deskripsi yang sesuai dengan item pertanyaan/ pernyataan.Teknik observasi yang dilakukan adalah observasi langsung, yakni pengamat mengamati dan mencatat objek yang diteliti (aktivitas guru dan siswa) selama proses pembelajaran.
4.Tes Tertulis
Tes Tertulis yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui pemahaman konsep siswa pada ranah kognitif menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.Tes dilaksanakan setiap akhir siklus dalam bentuk uraian yang digunakakan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan penyelesaian soal-soal pemecahan masalah siswa.
F.Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melalui instrument instrumen penelitian yaitu instrumen lembar observasi dan instrumen tes bentuk uraian.Observasi dilakukan tiga orang pengamat agar mengurangi bias data penelitian melalui instrumen lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk
mengamati kegiatan belajar mengajar siswa dan guru dalam pembelajaran matematika tentang materi jaring-jaring kubus dan balok sekolah dasar dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Sedangkan instrumen tes bentuk uraian pada setiap siklus digunakan untuk menilai pemahaman konsep dan keterampilan penyelesaian soal-soal pemecahan masalah sekolah dasarsederhana pada aspek kognitif menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.
G.Pengolahan dan Analisis Data
Data-data dari hasil penelitian dikumpulkan, diolah dan dianalisis data dari awal penelitian sampai akhir pelaksanaan tindakan.Ada dua jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian yaitu data kualitatif dan kuantitatif.
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yang diujikan pada penelitian kali ini ada tiga yaitu pengelolaan hasil belajar, menghitung presentase ketuntasan belajar dan peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan indeks gain <g>.
a. Pengelolaan data hasil belajar
Tes tertulis dilakukan setiap siklus, untuk mengetahui rata-rata hasil belajarsiswa pada mata pelajaran matematika melalui penerapan pendekatan kontekstual.model pembelajaran Disecovery Learning.Tes tertulis tiap siklus dilaksanakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata hasil belajar siswa adalah:
n : jumlah siswa
b. Menghitung Prosentase Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar siswa ditentukan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan. Prosentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal dapat
ditentukan dengan rumus :
Keterangan :
c. Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa
Data kuantitatif berasal dari skor siklus I, skor siklus II dan gain ternormalisasi. Hali ini dilakukan untuk mengetahui besarnya peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa pada penelitian ini, maka dilakukan analisis terhadap hasil skor siklus I dan skor siklus II. Analisis dilakukan dengan menggunakan indeks gain dengan lambang <g>. Adapun rumus untuk gain ternormalisasi menggunakan rata-rata (average normalized gain) oleh Hake (2007) yang dianggap lebih efektif sebagai berikut:
gain ternormalisasi<g> =
Klasifikasi gain ternormalisasi adalah:
2.Data Kualitatif
Data kualitatif diperoleh dari lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran di kelas, berupa lembar pengamatan terbuka, pengamatdeskripsi jawaban dalam bentuk narasi pada kolom yang sesuai dengan itempertanyaan/ pernyataan pada lembar observasi. Dalam penelitian ini dilibatkantiga pengamat.Hal ini bertujuan untuk mengurangi bias data hasil pengamatan.Data kualitatif ini diolah dengan cara menerjemahkan dan mendiskusikan denganpengamat jika terdapat jawaban yang belum jelas. Selanjutnya, penelitimengelompokkan jawaban pengamat yang positif dan negatif dari setiap itempertanyaan/pernyataan.Apabila banyak pengamat yang menjawab positif lebihbanyak dari yang menjawab negatif, berarti kegiatan guru atau siswa dalampembelajaran sudah sesuai dengan harapan penelitian.Tetapi, jika yang terjadibanyaknya jawaban yang negatif berarti masih perlu banyak perbaikan agar dapatsesuai dengan harapan penelitian.Selain itu data kualitatif juga diperoleh dariangket siswa yang disi oleh masing-masing siswa setiap akhir siklus.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, D, 2001, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Karya
Abditama.
Darhim, Drs.,dkk, 1991, Pendidikan Matematika 2, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan Nasional, 2004, Matematika, Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004, Jakarta
Kasbollah K, 1998 – 1999, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Dikti Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Ruseffendi, E.T, Prof., S.pd.,M.Sc., P.Hd., dkk, 1992, Pendidikan Matematika 3, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suherman, E, Drs., M.Pd., dan Winataputera, Udin S, Drs., M.A., 1992-1993, Strategi Belajar Mengajar Matematika, Jakarta : Departemen Pendidikan Kebudayaan.
Sumantri, B., 1988, Metode Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Dasar, Jakarta : Erlangga
Suherman, E, dkk, 1991, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,Bandung : Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran, Jakarta.
Safari, drs, MA., 2003, Evaluasi Pembelajaran, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.
Sudjatmiko, Drs,. 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Menunjang Kecakapan Hidup Siswa,Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan
Rahadi,A, Drs., 2003, Media Pembelajaran, Jakarta : Departemen Pandidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan
Wibawa, B, Dr., 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Departemen Pandidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan
Indrawan Rully, Prof, Dr, M.Si dan Yaniawati Poppy R, Prof, Dr, M.Pd, 2014, Metodologi Penelitian , Bandung : PT Reflika Aditama
Tugas Prof Rully
PROPOSAL
USULAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Judul:
PENGGUNAAN METODE PROJEK BERORIENTASI IT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PANGKAT EKSPONEN DI KELAS X SMA NEGERI 25 BANDUNG TAHUN AJARAN 2016/2017
Untuk memenuhi tugas "metodologi penelitian I"
Lilis Kartika
NPM : 158060006
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Matematika merupakan ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak siswa di sekolah memandang matematika sebagai bidang studi yang paling sulit. Padahal matematika merupakan mata pelajaran yang banyak berguna dalam kehidupan dan merupakan salah satu mata pelajaran yang di ujikan dalam UNAS. Ini berarti matematika merupakan sarana berpikir logis untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu matematika perlu diajarkan pada setiap jenjang pendidikan di sekolah.
di SMA NEGERI 25 tempat kami mengajar matematika pekerjaan rumah adalah sarana buat siswa untuk berlatih matematika secara intensif dan berkelanjutan tentunya dengan materi yang telah di ajarkan di sekolah berdasarkan hasil pengamatan PR yang di berikan tidak semua nya berdampak pada hasil ulangan , banyak siswa yang masih mengerjakan nya bukan merupakan hasil kerja sendiri, tapi bisa jadi mengerjakan degan cara melhat hasil teman nya.terbukti masih banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikan soal dengan baik
Berdasarkan hasil pengamatan, proses pembelajaran yang digunakan di SMA N 25 Bandung sudah melibatkan keaktifan siswa seperti menanya, menjawab, mengkonfirmasi sebgai mana telah di atur dalam kurikulum 13 namun hasil nya belum optimal .
Berdasarkan masalah tersebut peneliti berpendapat perlunya dilakukan perbaikan proses yang akan membawa kepada siswa untuk dapat berupaya lebih aktif lagi dan dapat menigkatkan prestasi belajarnya pada siswa SMA N 25 Bandung kelas X Mia 3. Siswa saling bertukar pendapat dalam memahami konsep pangkat ekspoen . Maka diperlukan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam mengerjakan latihan Matematika. Metode pembelajaran yang lebih mendorong keaktifan, kemandirian dan tanggung jawab dalam diri siswa adalah metode pembelajaran PROJECK BERORIENTASI IT. Melalui penerapan metode pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada pangkat elsponen .
Sesuai dengan uraian diatas maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul ”PENGGUNAAN METODE PROJEK BERORIENTASI IT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PANGKAT EKSPONEN DI KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 25 BANDUNG TAHUN AJARAN 2016/2017pada pokok bahasan "pangkat eksponen"
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pemberian tugas projeck pada pembelajaran pangkat eksponen dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa
B. IdentifikasiMasalah
hasil akhir dari proses pembelajaran matematika pada materi Pangkat Eksponen pada siswa kelas X SMA Negeri 25 Bandung dirasa masih lemah dalam pemahaman komsep hal ini menyebabkan nilai hasil test nya juga kurang optimal dalam pembelajaran siswa kurang aktif dalam bertanya hal itu disebabkan siswa tidak menguasa konsep awal. Interaksi dengan sesama teman juga dirasa kurang yang seharusnya siswa aktif saling berdiskusi. Salah satu yang dapat mendorong siswa aktif dalam pembelajaran adalah dengan mengubah PR dengan tugas . Metode yang digunakan adalah metode Projek pada materi pangkat eksponen.
C.Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini hanya akan membahas masalah upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa melalui penerapan metode projek sebagai pengganti PR . Dalam penelitian ini indikator meningkatnya keaktifan siswa dilihat dari proses pembelajaran selama dikenai tindakan dan meningkatnya prestasi belajar siswa dilihat dari hasil tes siswa.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Apakah penerapan metode projek sebagai pengganti PR dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi pangkat eksponen di kelas X Mia 3 SMAN 25 Bandung
2. Apakah penerapan metode projek dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pangkat eksponen.
E. TujuanPenelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi himpunan di kelas X Mia 3 SMA N 25 Bandung melalui penerapan metode Projek sebagai pengganti PR yang berorientasi IT
2. Meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi pangkat eksponen melalui penerapan metode projek yang berorientasi IT
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu:
Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode projek yang berorientasi IT dengan tujuan agar
dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.
2. Bagi Siswa
Sebagai wahana baru dalam proses meningkatkan keaktifan dan prestasi dalam
pembelajaran matematika.
3. Bagi Peneliti
Sebagai pengembangan pengetahuan tentang penelitian dalam pembelajaran matematika.
BAB II
LANDASAN TEORI
Deskripsi Teori
1. Pengertian Belajar
Menurut Hintzman belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri manusia disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia (Muhibbin Syah, 2005:90). Kegiatan belajar merupakan unsur yang sangat mendasar dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Jadi perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi prilaku dalam kehidupan sehari-hari sampai batas tertentu.
Menurut Oemar Hamalik (2003:50) terdapat unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar diantaranya: 1) motivasi siswa, 2) bahan belajar, 3) alat bantu belajar, 4) suasana belajar, 5) kondisi subjek yang belajar. Kelima unsur inilah yang bersifat dinamis yang sering berubah, menguat atau melemah dan mempengaruhi proses belajar siswa. Proses belajar pada hakekatnya merupakan perubahan dalam tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang berulang-ulang berdasarkan keadaan seseorang.
Menurut peneliti perbuatan belajar adalah suatu perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman baru yang mempengaruhi tingkah laku siswa dalam situasi tertentu yang berulang-ulang. Setiap perbuatan belajar mengandung beberapa unsur yang bersifat dinamis (berubah-ubah) dalam arti dapat menjadi lebih kuat atau melemah. Kedinamisan ini dipengaruhi oleh kondisi yang ada dalam diri siswa dan yang ada diluar diri siswa yang tentu pula ada pengaruhnya terhadap kegiatan belajar siswa.
2. Arti Metode
Metode (Method) menurut LrFt red Percivadl an henry Ellington (1984) adalah cara yang umum untuk menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik atau mempraktikan teori yang telah di pelajari dalam rangka mencapai tujuan belajar. Batasan ini hampir sma dengan pendapat Trdif dalam Muhibbin Syah (1995) bahwa metode diartikan sebagai cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan penyajian materi pelajaran kepada peserta didik . Selanjutnya Reigeluth (1983) mengartikan bahwa metode mencakup rumusan tentang pengorganisasian bahan ajar, strategi penyampaian, dan pengelolaan kegiatan dengan memperhatikan tujuan ,hambatan dan karakteristik peserta didik sehingga diperoleh hasil yang efektif , efisien dam menimbulkan daya tarik pembelajaran
Pendapat Reigeluth tersebut di dukung oleh Jerome Brunner (dalam coony semiawan, 1997) dengan menyebut metode pembelajaran induktif atau berfikir induktif. Kemudia JE Kemp (1994) menggunakan nya untuk mengelompokan pola mengajar dan belajar yaitu klasikal mandiri dan interaksi guru - peserta didik atau pengajaran berkelompok
Berbagai pendapat di atas menunjukan bahwa metode berhubungan dengan cara yang memungkinkan peserta didik memperoleh kemudahan dalam rangka mempelajari bahan ajar yang di sampaikan oleh guru . Ketepat gunaan dalam metode sangat berpeluang bagi terciptanya kondisi pembelajaran yang kondusif menyenangkan sehingga kegiatan pembelajaran ( instructional activities) dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam memfasilitasi peserta didik untuk dapat meraih hasil belajar sesuai dengan yang di harapkan . Dengan demikian metode merupakan suatu komponen yang sangat menentukan terciptanya kondisi selama berlangsung kegiatan pembelajaran.
Dalam konteks pembelajaran yang menyenangkan itu Ivork Davies (1981)menegaskan bahwa suatu kegiatan pembelajaran tidak selalu menjamin orang (peserta didik) akan dapat belajar , hal ini menunjukan bahwa sebaikanya seorang guru merancang / mendesain suatu program pembelajaran, kiranya tidak akan dapat secara optimal mewujudkan ketercapaian kompetensi yang diharapkan apabila tidak di dukung oleh sekaligus penggunaan metode secara tepat.
3. Macam macam metode pembelajaran
Metode pembelajaran sebagai suatu cara untuk menyajikan materi pelajaran atau bahan pengetahuan kepada peserta didik, banyak ragam nya dengan berbagai metoda pada hakekatnya adalah kelebihan dan kelemahan masing masing baik dan dapat di gunakan untuk menyajikan berbagai materi pelajaran sehingga tidak ada satu pun metode yang paling tepat dan sesuai untuk suatu mata pelajaran tertentu. Suatu metode yang telah dipilih untuk menyajikan materi pelajaran hendak nya di pahami dengan baik dan di gunakan atau di uji cobakan berulang kali selanjutnya dapat diketahui kelebihan dan kekurangan nya sebagai pedoman guna memodifikasi dalam penggunaan berikutnya, hal ini di tempuh karena metode menentukan kondusif atau tidak nya kondisi dalam kegiatan pembelajaran yang pada giliran nya akan menentukan hasil pelaksanaan.kegagalan dalam mewujudkan hasil belajar atau ketercapaian kompetensi menungut perubahan dalam penggunaan metode pembelajaran.
Ceramah
Tanya jawab
Diskusi
Pemberian tugas
Demonstrasi
Kerja kelompok
Karya wisata
Simulasi
Metode pembelajaran merupakan cara yang memungkinkan peserta didik memperoleh kemdahan dalam rangka mempelajari/ membahas bahan ajar yang disampaikan oleh guru sebagai saran untuk mewujudkan ketercapaian kompetensi
4. Keaktifan Siswa
Aktif menurut kamus besar bahasa Indonesia (2002:19) berarti giat (bekerja atau berusaha), sedangkan keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan dimana siswa dapat aktif. Keaktifan siswa dalam belajar matematika tampak dalam kegiatan berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran.
Menurut Moh User Usman (2002:26) cara yang dapat dilakukan guru untuk memperbaiki keterlibatan siswa antara lain sebagai berikut:
a. Tingkatkan persepsi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang
membuat respon yang aktif dari siswa
b. Masa transisi antara kegiatan dalam mengajar hendaknya dilakukan secara cepat dan
luwes
c. Berikan pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan
dicapai
d. Usahakan agar pengajaran dapat lebih memacu minat siswa.
Menurut Lidgren (Moh User Usman, 2002:24) terdapat empat jenis interaksi
dalam kegiatan belajar mengajar diantaranya sebagai berikut:
Komunikasi satu arah (gambar 1.a) merupakan komunikasi yang hanya dilakukan
oleh guru terhadap siswa, sementara siswa hanya pasif sebatas mendengarkan
Gambar 1. Interaksi Kegiatan Belajar
komunikasi dari guru. Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa, tetapi tidak ada interaksi antar siswa. Interaksi yang terjadi hanya antara guru dan siswa selama pembelajaran (gambar 1.b). Komunikasi dari guru sudah mendapat respon balik dari siswa dan ada interaksi diantara siswa, tetapi belum keseluruhan siswa yang melakukan interaksi baik dengan guru maupun siswa lainnya (gambar 1.c). Komunikasi sudah berjalan baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa lainnya. Dalam hal ini interaksi sudah optimal selama proses pembelajaran (gambar 1.d).
Jenis-jenis interaksi pembelajaran diatas menunjukkan derajat keaktifan siswa. Anak panah menunjukkan arah komunikasi sehingga semakin banyak ruas garis berarah menunjukkan semakin tinggi interaksi siswa. Interaksi lebih tinggi ini diperlukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Keaktifan siswa merupakan suatu keadaan dimana siswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini keaktifan siswa terlihat dari merespon pertanyaan atau perintah dari guru, mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru, berani mengemukakan pendapat, dan aktif mengerjakan soal yang diberikan guru.
5. Prestasi Belajar
Belajar merupakan salah satu dasar untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran yang disampaikan guru dapat diterima dan dipahami sehingga prestasi belajar.siswa dapat diketahui dari hasil tes yang diberikan. Menurut Saifudin Azwar (1998:45) prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan dan dikerjakan secara optimal.
Menurut Dalyono (2005:55) ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern meliputi kesehatan, intelegensi, bakat, minat, dan motivasi, sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar. Faktor yang bersumber dari dalam diri siswa yaitu kecerdasan, minat, motivasi dan kemampuan kognitif sedangkan faktor dari lingkungan keluarga yaitu tingkat pendidikan orang tua dan jumlah anggota orang tua.
Prestasi belajar siswa merupakan hasil yang telah dicapai siswa setelah belajar dan mengerjakan secara optimal yang diperoleh dari hasil tes individu. Perbedaan kemampuan belajar siswa berpengaruh pada prestasi belajar yang dicapai dari setiap siswa karena faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa juga berbeda-beda.
6. Materi Persamaan Eksponen
PERSAMAAN EKSPONEN DAN CONTOH SOAL
Persamaan Eksponen dapat diartikan sebagai persamaan yang didalamnya terdapat pangkat yang berbentuk fungsi dalam x dimana x sebagai bilangan peubah. . Materi ini biasa disampaikan pada awal kelas X dan akhir kelas XII. Materi eksponen ini sebenarnya sangat mudah untuk dimengerti, hanya saja niat yang belum ada, mari simak dengan baik-baik.
Eksponen
Bentuk Persamaan Eksponen
1. af(x) = 1 ( Jika af(x) = 1 dengan a>0 dan a ≠0, maka f(x) = 0 )
2. af(x) = ap ( Jika af(x) = ap dengan a>0 dan a ≠0, maka f(x) = p )
3. af(x) = ag(x) ( Jika af(x) = ag(x) dengan a>0 dan a ≠0, maka f(x) = g(x) )
4. af(x) = bf(x) ( Jika af(x) = bf(x) dengan a>0 dan a ≠1, b>0 dan b ≠1, dan a≠b maka f(x) = 0 )
5. A(af(x))2 + B(af(x)) + C = 0 ( Dengan af(x) = p, maka bentuk persamaan diatas dapat diubah menjadi persamaan kuadrat : Ap2 + Bp + C = 0 )
1. Contoh Soal Persamaan Eksponen Bentuk af(x) = 1
Tentukan himpunan penyelesaiian dari :
a. 3 5x-10 = 1
b. 2 2x²+3x-5 = 1
Jawab :
a. 3 5x-10 = 1
3 5x-10 = 30
5x-10 = 0
5x = 10
x = 2
b. 2 2x²+3x-5 = 1
2 2x²+3x-5 = 20
2x2+2x-5 = 0
(2x+5) (x-1) = 0
2x+5 = 0 | x-1 = 0
X = -²⁄₅ | x = 1
2. Contoh Soal Persamaan Eksponen Bentuk af(x) = ap
Tentukan himpunan penyelesaian dari :
a. 5 2x-1 = 625
b. 2 2x-7 = ⅓₂
c. √33x-10 = ½₇√3
Jawab :
a. 5 2x-1 = 625
5 2x-1 = 53
2x-1 = 3
2x = 4
x = 2
b. 2 2x-7 = ⅓₂
2 2x-7 = 2-5
2x-7 = -5
2x = 2
x = 1
c. √33x-10 = ½₇√3
33x-10⁄2 = 3-3.3½
33x-10⁄2 = 3-⁵⁄₂
3x-10⁄2 = -⁵⁄₂
3x-10 = -5
3x = 5
x = ⁵⁄₃
3. Contoh Persamaan Eksponen Bentuk af(x) = ag(x)
Tentukan himpunan penyelesaian dari :
a. 9 x²+x = 27 x²-1
b. 25 x+2 = (0,2) 1-x
Jawab :
a. 9 x²+x = 27 x²-1
3 2(x²+x) = 3 3(x²-1)
2 (x2+x) = 3 (x2-1)
2x2 + 2x = 3x2 – 3
x2 – 2x – 3 = 0
(x – 3) (x + 1) = 0
x = 3 x = -1 Jadi HP = { -1,3 }
b. 25 x+2 = (0,2) 1-x
52(x+2) = 5 -1(1-x)
2x + 4 = -1 + x
2x – x = -1 – 4
x = -5 Jadi HP = { -5 }
4. Contoh Persamaan Eksponen Bentuk af(x) = bf(x)
Tentukan himpunan penyelesaian dari :
a. 6 x-3 = 9 x-3
b. 7x²-5x+6 = 8x²-5x+6
Jawab :
a. 6 x-3 = 9 x-3
x-3 = 0
x = 3
Jadi HP = { 3 }
b. 7x²-5x+6 = 8x²-5x+6
x²-5x+6 = 0
(x-6) (x+1) = 0
x = 6 x = -1
Jadi HP = { -1,6 }
5. Contoh Persamaan Eksponen Bentuk A(af(x))2 + B(af(x)) + C
Tentukan himpunan penyelesaian dari :
a. 22x – 2x+3 + 16 = 0
Jawab :
a. 22x – 2x+3 + 16 = 0
22x – 2x.23 + 16 = 0
Misalkan 2x = p, maka persamaannya menjadi
P2 – 8p + 16 = 0
(p-4) p-4) = 0
p = 4
Untuk p = 4, jadi
2x = 4
2x = 22
x = 2
Jadi HP = { 2 }
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan mengacu pada penelitian terdahulu yang relevan yaitu penelitian yang dilakukakan oleh Elly Ika Susanti (2008) Pengaruh Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (project based learning) terhadap Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN I Karang Binangun Lamongan, menyimpulkan bahwa bahwa penerapan pembelajaran berbasis proyek siswa kelas X1 telah digunakan di SMA Negeri 1 Karangbinangun Lamongan sesuai dengan konsep. Adapun yang membedakan penelitian yang di lakukan oleh Elly Ika Susanti adalah melihat dari sisi pengaruhnya metode dengan kulitas materi PAI. Sedangkan penlitian saya melihat dari sisi peningkatan keaktifan siswa.
Noer Azizah (2008) dalam penelitian pengaruh Metode Proyek Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X pada Konsep Pencemaran Lingkungan, menyimpulkan bahwa dengan terdapat pengaruh positif antara pembelajaran proyek terhadap penguasaan konsep siswa. Adapun pembeda penelitian yang dilakukan oleh Noer Azizah adalah ruang lingkup pembelajarannya.
Warsito (2008) dalam penelitian Pembelajaran Sains Berbasis Proyek Sebagai Usaha Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Academic Skill Siswa Kelas VII C SMP Muhammadiyyah 3 Depok, menyimpulkan bahwa dengan menggunakan Metode proyek dapat meningkatkan aktivitas siswa dan skill siswa. Adapun pembeda penelitian yang dilakukan oleh Warsito adalah metode proyek diringi dengan eksperimen.
C. Kerangka Berfikir
Upaya yang diperlukan untuk mendorong siswa aktif dalam kegiatan belajar di kelas selalu bergantung pada guru. Keaktifan siswa belum berkembang selama proses pembelajaran yang berdampak pada prestasi belajar siswa masih rendah dalam mempelajari materi persamaan eksponen. Hal ini yang menjadi indikator perlunya upaya untuk membantu siswa agar dapat mempelajari materi persamaan eksponen dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Penerapan metode projeck berorientasi IT lebih mendorong kemandirian, keaktifan dan tanggung jawab dalam diri siswa.
Kerangaka penelitian tindakan kelas digambarkan sebagai berikut:
.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini Gambar 2. Alur Kerangka Berpikir
1. Penerapan metode pembelajaran beroriensi IT dapat meningkatkan keaktifan
belajar siswa pada materi Persamaan Eksponen di kelas X Mia 3 SMA Negeri 25 Bandung
2. Penerapan metode pembelajaran beorientasi IT dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa pada materi Persamaan Eksponen di kelas X Mia 3 SMa Negeri 25 Bandung
E. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah meningkatnya keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas X Mia 3 SMA Negeri 25 Bandung. Peningkatan keaktifan belajar siswa dilihat dari aktivitas belajar selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari hasil tes siswa melalui penerapan metode pembelajaran dengan menggunakan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah yaitu dengan nilai ketuntasan 70.
BAB II
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 25 Bandung pada semester Ganjil bulan Agustus sampai September 2016. Dengan menyesuaikan jam pelajaran matematika kelas X Mia SMA Negeri 25 Bandung
B. Subjek & Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Mia SMA Negeri 25 Bandung, yaitu 45 siswa yang terdiri dari 22 siswa putri dan 23 siswa putra. Dan obyek penelitian ini adalah penerapan metode Projek Berorientasi IT
C. Desain Penelitian
.jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif. Dalam penelitian kolaboratif pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri sedangkan yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti (Suharsimi Arikunto, 2002:17).
1. Perencanaan (plan)
2. Tindakan (act)
3. Pengamatan (observe)
4. Refleksi (reflect).
Dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus. Siklus dihentikan apabila kondisi kelas sudah stabil dalam hal ini guru sudah mampu menguasai keterampilan belajar yang baru dan siswa terbiasa dengan Metode Projek dalam pembelajaran serta data yang ditampilkan di kelas sudah jenuh dalam arti sudah ada peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa (Rochiati Wiriaatmadja, 2005:103). Alur penelitiannya adalah:
D. Tahapan Penelitian
1. Tahapan Penelitian Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, hand out, lembar kerja siswa, lembar observasi keaktifan, lembar angket respon siswa, lembar observasi pelaksanaan metode projek dan pedoman wawancara yang kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.
B. Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilakukan dalam tiga kali pertemuan.
Tahap tindakan dilakukan oleh guru dengan menerapkan metode projek berorientasi IT . Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan jadwal pelajaran matematika kelas X Mia 3 . Materi yang akan diberikan adalah materi persamaan Eksponen . Adapun tindakan yang dilakukan pada tiap siklus yaitu:
Pendahuluan
Guru menyampaikan presentasi kelas dengan memberikan apersepsi dan motivasi kepada siswa dalam mempelajari materi Persamaan Eksponen
.
2) Kegiatan Inti
a). Siswa belajar dalam kelompok
b). Guru memberi penekanan dari hasil diskusi dalam kelompok
c). Siswa mengerjakan kuis secara individu
d). Peningkatan nilai
e). Pemberian Penghargaan Kelompok
3). Penutup
Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang telah berhasil
kriteria keberhasilan tertentu.
C. Observasi
Dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan mencatat kejadian-kejadian yang tidak terdapat dalam lembar observasi dengan membuat lembar catatan lapangan. Hal-hal yang diamati selama proses pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran dan aktivitas guru maupun siswa selama pelaksanaan pembelajaran.
D. Refleksi
Pada tahap ini peneliti bersama guru melakukan evaluasi dari pelaksanaan tindakan
pada siklus I yang digunakan sebagai bahan pertimbangan perencanaan pembelajaran siklus berikutnya. Jika hasil yang diharapkan belum tercapai maka dilakukan perbaikan yang dilaksanakan pada siklus kedua dan seterusnya.
2. Tahapan penelitian siklus II dan siklus III
Rencana tindakan siklus II dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan
terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. Sedangkan kegiatan pada siklus III dimaksudkan sebagai hasil refleksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran pada siklus II. Tahapan tindakan siklus II dan siklus III mengikuti tahapan tindakan siklus I
E. Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang di gunakan adalah :
Observasi
Dalam penelitian ini terdapat dua pedoman observasi yaitu observasi keaktifan siswa dan obsevasi pelaksanaan pembelajaran metode projek. Observasi keaktifan siswa difokuskan pada pengamatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran pada materi persamaan Eksponen . Sedangkan observasi pelaksanaan pembelajaran difokuskan pada aktivitas guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Dan pengamatan yang belum terdapat pada pedoman observasi dituliskan pada lembar catatan lapangan.
2. Angket
Angket dibagikan dan diisi oleh siswa yang fungsinya untuk mengetahui respon
siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika dengan penerapan metode projek
3. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan cara bertanya kepada guru dan siswa mengenai proses pembelajaran dengan menggunakan metode Projek
4. Test
Test Digunakan berupa kuis individu yang fungsinya untuk mengetahui tingkat
pemahaman siswa setelah mempelajari materi persamaan Eksponen dengan menggunakan metode Projek
5. Dokumentasi
.Dokumentasi diperoleh dari hasil kuis siswa, lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, daftar kelompok siswa, dan foto-foto selama proses pembelajaran.
F. Instrumen penelitian
peneliti
Peneliti merupakan instrumen karena peneliti sekaligus sebagai perencana,
pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data dan pada akhirnya menjadi
pelapor penelitiannya (Lexy J. Moleong 2007: 168)
2. Lembar observasi
Dalam penelitian ini digunakan dua lembar observasi yaitu lembar observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas dan lembar keaktifan siswa. Lembar observasi pelaksanaan metode Projek digunakan sebagai pedoman peneliti dalam melakukan observasi pelaksanaan pembelajaran metode Projek. Sedangkan lembar observasi keaktifan siswa digunakan pada setiap pembelajaran sehingga kegiatan observasi tidak terlepas dari konteks permasalahan dan tujuan penelitian.
3. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara ini digunakan untuk mengetahui respon atau tanggapan guru
dan siswa mengenai proses pembelajaran dengan menggunakan Metode Projek.
4. Angket
Angket yang akan digunakan adalah angket tertutup dengan alternatif jawaban yaitu selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah.
5. Test
Dalam Metode Projek digunakan pre test, post test, dan
kuis individu. Tes ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana prestasi siswa mengenai materi persamaan eksponen dengan penerapan metode projek.
6. Dokumentasi
Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah silabus, rencana
pelaksanaan pembelajaran, daftar nilai siswa, daftar kelompok, dokumen guru mengenai
nilai siswa semester ganjil, dan foto-foto selama proses pembelajaran.
7. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan catatan tertulis tentang hasil pengamatan di kelas yang tidak terdapat di lembar observasi. Dalam penelitian ini catatan lapangan digunakan untuk mengamati hal-hal yang terjadi selama penerapan metode projek.
G. Tehnik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data yaitu kegiatan pemilihan data, penyederhanaan data serta transformasi data kasar dari hasil catatan lapangan. Penyajian data berupa sekumpulan informasi dalam bentuk tes naratif yang disusun, diatur dan diringkas sehingga mudah dipahami. Hal ini dilakukan secara bertahap kemudian dilakukan penyimpulan dengan cara diskusi bersama mitra kolaborasi. Untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian digunakan triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2005:83).
1. Analisis Data
Data hasil observasi dianalisis untuk mengetahui keaktifan siswa yang berpedoman pada lembar observasi keaktifan siswa. Penilaian dilihat dari hasil skor pada lembar observasi yang digunakan. Persentase diperoleh dari skor pada lembar observasi dikualifikasikan untuk menentukan seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Untuk setiap siklus persentase diperoleh dari rata-rata persentase keaktifan siswa pada tiap pertemuan. Hasil data observasi ini dianalisis dengan pedoman kriteria sebagai berikut:
Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam lembar observasi terdapat empat kriteria penilaian, sehingga terdapat empat kriteria keaktifan. Cara menghitung persentase keaktifan siswa (Sugiyono, 2001:81) berdasarkan lembar observasi untuk tiap pertemuan adalah sebagai berikut:
. 2. Analisis Angket Respon Siswa
Angket respon siswa terdiri dari 14 butir pertanyaan dengan rincian 12 butir pertanyaan positif (+) ada 2 butir pertanyaan negatif (-). Penskoran angket untuk butir (+) adalah 4 untuk jawaban selalu, 3 untuk jawaban sering, 2 untuk jawaban kadang-kadang dan 1 untuk jawaban tidak pernah. Untuk butir (-) adalah skor 1 untuk jawaban selalu, 2 untuk jawaban sering, 3 untuk jawaban kadang-kadang dan 4 untuk jawaban tidak pernah. Data hasil angket dibuat kualifikasi dengan kriteria sebagai berikut
Peneliti menggunakan kriteria tersebut karena dalam angket respon terdapat empat pilihan jawaban sehingga terdapat empat kriteria respon. Cara menghitung persentase angket respon menurut Sugiyono (2001:81) adalah sebagai berikut:
Persentase = Jumlah skor hasil pemgumpulan data X 100%
Jumlah skor bila setiap butir mendapat skor tertinggi
3. Analisis Hasil Belajar Siswa
Hasil tes siswa dianalisis untuk menentukan peningkatan ketuntasan siswa, nilai individu,
skor kelompok dan penghargaan kelompok.
a . Peningkatan ketuntasan mengikuti ketentuan sekolah bahwa ”siswa dinyatakan lulus
dalam setiap tes jika nilai yang diperoleh ≥ 60 dengan nilai maksimal 100”. Maka dalam penelitian ini juga menggunakan ketentuan yang ditetapkan sekolah, untuk menentukan persen (%) ketuntasan siswa dengan menggunakan perhitungan persen (%) ketuntasan yaitu sebagai berikut:
Persen (%) ketuntasan : Jumlah siswa tuntas × 100%
Jumlah siswa
Peningkatan prestasi siswa juga dilihat dari hasil belajar jangka pendeknya yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata tes pada setiap siklus. Dari data perolehan
b. Peningkatan prestasi siswa juga dilihat dari hasil belajar jangka pendeknya yang ditunjukkan dengan kenaikan nilai rata-rata tes pada setiap siklus. Dari data perolehan scor untuk setiap tes, rata-rata nilai siswa dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :
dengan x = Nilai siswa ; n = Jumlah siswa.
c. Peningkatan nilai individu siswa diperoleh dengan membandingkan skor dasar siswa (rata-rata nilai tes siswa sebelumnya) dengan nilai kuis sekarang. Aturan pemberian skor peningkatan individu mengikuti aturan dalam Slavin (1995:80) seperti pada halaman 10.
d.. Perolehan penghargaan kelompok dengan melihat jumlah rata-rata skor tiap kelompok. Aturan perolehan penghargaan kelompok mengikuti aturan dalam Mohamad Nur (2005:36) seperti pada halaman 12.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono. 2005. Psikologi Pendididkan, Jakarta: Rineka Cipta.
Lexy J Moleong. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moh User Usman,. 2002. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rully Indrawan,2014. Metodologi Penelitian . Bandung: PT Reflika aditama
Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. 2003. Kurikulun dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Ponco Sujatmiko. 2005. Matematika Kreatif: Konsep dan Terapannya. Yogyakarta:Tiga Serangkai .
Pusat Bahasa Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Rochiati Wiriaatmadja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Saifudin Azwar. 1998. Tes Prestasi II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suharsimi Arikunto. 2002. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Milan riyanto.2006. Pendekatan strategi dan metode pembelajaran. Jakarta. Departemen pendidikan Nasional.
Langganan:
Postingan (Atom)
