MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL KELAS VII SMP NEGERI 42 BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2016/2017
DISUSUN OLEH :
DUDI PERMANA
MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik (Nana Syaodih, 2011:24).Pendidikan mempunyai pengaruh besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Secara otomatis pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas baik sehingga akan mendorong ilmu pengetahan dan teknologi suatu bangsa ke arah yang lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya fakta bahwa negara yang maju memiliki tingkat pendidikan yang lebih maju dibanding dengan negara berkembang.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 42 Bandung, baik yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun yang berasal dari luar siswa. Faktor dari dalam diri siswa misalnya motivasi belajar, minat belajar, siskap terhadap matematika serta kemampuan berfikir konvergen dan divergen, sedang faktor yang berasal dari luar misalnya kemampuan guru dalam mengelola proses belajar, sarana belajar dan lingkngan pendukung. Berdasarkan kenyataan diatas kiranya perlu diamati permasalahan mengenai kesulitan siswa terhadap materi matematika, khususnya materi aritmatika social.
Pemanfaatan Model Pembelajaran sebagai kelengkapan kerja guru harus terus didorong sebab sudah mendesak sifatnya.Keberhasilan penggunaan Model pembelajaran sangat tergantung kemampuan guru dalam menganalisi materi pembelajaran dan kemampuan mengkreasikan materi tersebut kedalam bentuk audiovisual dan grafis.Pemanfaatan Model Pembelajaran mempersingkat tenggang waktu pencapaian sasaranndanntujuannpendidikan.
Sesuai dengan uraian diatas maka peneliti mengadakan penelitian dengan judul MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISIWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA POKOK BAHASAN ARITMATIKA SOSIAL KELAS VII SMP NEGERI 42 BANDUNG TAHUN PELAJARAN 2016/2017.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, secara umum permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial Kelas VII Smp Negeri 42 Bandung Tahun Pelajaran 2016/2017
Bagaimana aktivitas siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial?
Apakah penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial dapat membuat siswa senang belajar matematika ?
Kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial?
Bagaimana peningkatan kemampuan siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial ?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial dapat meningkat. Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
Memperoleh gambaran bagaimana aktivitas siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
Memperoleh gambaran Apakah penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
Memperoleh gambaran kesulitan apa yang dihadapi siswa dalam penggunaan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
Memperoleh gambaran bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial.
E.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa, guru, dan sekolah sebagai berikut:
1.Manfaat bagi Guru
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk memperbaiki dan peningkatan layanan guru dalam proses belajar, maka diharapkan setelah melakukan penelitianini guru dapat mengetahui kelemahan selama mengajar pada pembelajaran matematika dan dapat memperbaiki rancangan kegiatan proses belajar mengajar. Sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa. Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial dapat dijadikan sebagai pendekatan alternatif bagi pembelajaran Matematika khususnya tentang soal-soal cerita pemecahan masalah matematika Sekolah Menengah Pertama agar konsep Matematika yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami siswa.
2. Manfaat bagi Siswa
Model Pembelajaran yang diterapkan guru di dalak kelas dapat berimbas pada meningkatnya pemahaman konsep soal yang mengandung pemecahan masalah matematika Sekolah Menengah Pertama serta meningkatnya minat dan kreatifitas siswa
3.Manfaat bagi sekolah
Hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah khusunya pembelajaran matematika.Selain itu dapat digunakan sebagai contoh dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan pembelajaran matematika di sekolah.
F. Hipotesis Tindakan
Jika siswa memperoleh pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial maka pemahaman konsep dan keterampilan siswa akan meningkat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
2.1.1.Pengertian Project Based Learning
Menurut Buck Institute for Education (BIE) (dalam Khamdi, 2007) “Project Based Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan siswandalamnkegiatannpemecahannmasalahndannmemberinpeluangnsiswabekerjansecaranotonomnmengkonstruksinbelajarnmerekansendiri,dannpuncaknya menghasilkan produkkarya siswabernilaidanrealistik.
ProjectnbasednLearning (PBL) is a model for classroom activity thats hifts away from the usual classroom practices of short, isolat, teacher-centred lessons. PBL learning activities are long-term, inter disciplinary, student-centred, and integrated with real-world issues and practices (Pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah model kegiatan dikelas yang berbeda dengan biasanya. Kegiatan pembelajaran PBL berjangka waktu lama, antar disiplin, berpusat pada siswa dan terintegrasi dengan masalah dunia nyata,Harun,2006).
Jadi, Project Based Learning merupakan pembelajaran inovatif yang
Berpusat pada siswa (studentcentered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana siswa diberi peluang bekerja secara otonom mengkonstruksi belajarnya. Project Based Learning sangat cocok dipadukan dengan materi koloid. Berdasarkan kegiatan pembelajaran dalam silabus, materi koloid menuntut siswa untuk aktif (studentcentered) sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator, siswa bekerjasama dengan berbagai percobaan seperti percobaan pengelompokan berbagai sistem koloid, percobaan sifat-sifat koloid secara kelompok dan percobaan pembuatan koloid. Selain itu materi koloid juga sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga banyak peluang untuk mengajak
siswa berpikir kritis dan kreatif mengenai masalah nyata yang akan diangkat dalam Project Based Learning.
1.1.1. Ciri ciri Project Based Learning
BIE (dalam Susanti, 2008) menyebutkan ciri-ciri Project Based Learning diantaranya adalah: isi, kondisi, aktivitas dan hasil. Keempat ciri-ciri itu adalah sebagai berikut:
1. Isi
Difokuskan padaide-idesiswayaitudalammembentukgambaran sendiribekerjaatastopik-topikyangrelevan danminatsiswayang seimbangdenganpengalamansiswasehari-hari.Padamateri koloid masalahnyatayangdiangkatharuslahdifokuskan padapengalaman siswa sehari-hari.
2. Kondisi
Maksudnya adalah kondisi untuk mendorong siswa mandiri, yaitu dalam mengelola tugas danwaktu belajar. Sehingga dalam belajarmaterikoloid siswa mencarisumber informasi secara mandiridari berbagaireferensisepertibukumaupunintenet.
3. Aktivitas
Adalahsuatustrategi yangefektifdanmenarik,yaitudalammencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan memecahkan masalah- masalahmenggunakankecakapan.Aktivitasjugamerupakanbangunan dalammenggagaspengetahuan siswadalammentransferdan menyimpaninformasidenganmudah.Padamateri koloid,siswa dituntutuntukaktif,menggunakan kecakapanuntukmemecahkanmasalahdanberbagaitujuanbelajar yangingindicapai.Dilihatdari kegiatan pembelajaran dalam silabus, materi koloid sangat menekankanaktifitassiswa.
4. Hasil
Hasil disiniadalahpenerapanhasilyangproduktif dalammembantu siswamengembangkankecakapanbelajardanmengintegrasikandalam belajaryangsempurna,termasukstrategi dankemampuanuntuk mempergunakankognitifstrategipemecahanmasalah.Jugatermasuk kecakapan tertentu, disposisi, sikap dan kepercayaan yang dihubungkandenganpekerjaanproduktif,sehinggasecara efektifdapatmenyempurnakantujuanyangsulituntukdicapaidenganmodel-model pengajaran yanglain.1.1.2. Komponen-komponen ProjectBased Learning
Komponen-komponenProject BasedLearningmeliputibeberapahal:
1. Isi kurikulum
Guru dansiswabertanggungjawabatasdasarstandardantujuanyang jelasserta mendukungproses belajar.
2. Komponen multimedia
Siswadiberikesempatanuntukmenggunakanteknologi secaraefektif sebagaialatdalamperencanaan, perkembanganataupenyajianproyek.
3. Komponenpetunjuk siswa
Dirancang untuk siswa dalam membuat keputusan, berinisiatifdan memberimateriuntukmengembangkandanmenilaipekerjaannya.
4. Bekerjasama
Memberi siswa kesempatan bekerjasama diantara siswa maupun denganguru serta anggotakelompokyanglain.
5. Komponen hubungandengandunianyata
ProjectBasedLearningdihubungkandengan dunia nyata menujupersoalanyangrelevanuntukkehidupansiswaataukelompokdanjuga komunikasidengandunialuarkelasmelaluiinternet,serta bekerjasama dengananggotakelompok.
6. Kerangkawaktu
Memberisiswakesempatanmerencanakan,merevisi,membayangkan pembelajarannyadalamkerangkawaktuberpikiruntukmateri dan waktuyangmendukungpembelajarantersebut.
7. Penilaian
Proses penilaiandilakukansecaraterusmenerusdalam setiap pembelajaran,seperti menilaiguru, teman,menilaidanmerefleksidiri.
2.1.4. DukunganteoritisProjectBasedLearning
Secara teoritis dan konseptual, pembelajaran berbasis proyek juga didukung olehteoriaktivitas.Activitytheorymenyatakanbahwastrukturdasar suatukegiatanterdiriatas: (a) tujuanyangingindicapai, (b) subjekyangberada
dalamkonteks, (c) suatumasarakatdimanapekerjaanitu dilakukan dengan perantaraan, (d)alat-alat, dan (e) peraturan kerjadanpembagiantugas.Dalam penerapannyadikelasbertumpupadakegiatanbelajaraktif dalambentuk melakukan sesuatu (doing) daripada kegiatan pasifmenerima transfer pengetahuandariguru(Wena,2010).
Pembelajaranberbasisproyekjugadidukungoleh teori belajar konstruktivistik, yangbersandarpadaidebahwa siswamembangun pengetahuannyasendiri didalamkontekspengalamannyasendiri.Pembelajaran berbasisproyekdapatdipandangsebagai salahsatupendekatanpenciptaan lingkunganbelajaryangdapatmendorongsiswamengkonstruk pengetahuandan keterampilan secara personal. Ketika pembelajaran berbasis proyekdilakukan dalammodelbelajarkolaboratif dalamkelompokkecilsiswa,pembelajaran berbasisproyekjugamendapatdukungan teoritisyangbersumberdari konstruktivismesosialVygotsky yangmemberikanlandasanpengembangan kognitifmelalui peningkatanintensitasinteraksiantarpersonal.Adanyapeluang untukmenyampaikanide,mendengarkan ide oranglain,danmerefleksikanide sendiri padaoranglain,adalahsuatubentukpembelajaranindividu.Proses interaktifdengankawansejawatmembantuproseskonstruksi pengetahuan.Dari perspektifteori inipembelajaranberbasisproyekdapatmembantusiswa meningkatkan keterampilandanmemecahkanmasalahsecarakolaboratif (Wena,2010).
2.1.5. Tahap-TahapProjectBasedLearning
1. Menentukanproyekyangakandilakukan
Pada tahap ini guru memberikan proyek kepada siswa, menentukan batasan-batasandanmenentukan tujuanutamadari proyek.Proyekyang akandilakukanterkaitdenganmaterikoloidyaitu prosespenjernihanair.
2. Menentukankerangkawaktuprosespenjernihanair
Tahapinimerupakan tahapmenentukanberapalamaproyekakan dikerjakan,memeriksatujuan proyekyangakanditelitidanmenyediakan tempat yang sesuai untuk proyek. Penentuan kerangka waktu proye
disesuaikan dengan persiapan pencarian referensi pendukung materi koloidterutama yang berhubungandenganprosespenjernihanair, dan penyediaanalatdanbahanyangdibutuhkandalamprosespenjernihanair,
3. Merencanakankegiatanapayangakandilakukan
Padatahapini gurumemilihbeberapakegiatanyangsesuai, menggambarkankegiatanyangakan dilakukan olehsiswa.Guru memberikan gambaran proses penjernihan airsecararingkasselanjutnya siswa mencari sendiri informasi yang dibutuhkannya mengenaiproses penjernihanairserta kaitannyadengansifat-sifatkoloid.
4. Merencanakanpenilaian
Setelah siswa melakukan kegiatan pada tahapan ini nantinya guru meninjauataumenuliskanbeberapa tujuanpenilaian,merencanakan alat- alat penilaian apa saja yang akan digunakan, menambahkan penilaian dalamkerangkawaktu. Penilaianini jugamencakuppenguasaanmateri koloidolehsiswaterutamayangberhubungan denganprosespenjernihan airsepertisifatkoloidadsorpsidankoagulasi.
5. Memulaiprosespenjernihanairdengansiswa
Tahapiniadalahtahappengerjaan proses penjernihanairdengan mendiskusikan tujuan dikelas,melaksanakan,melihatdanmendengarkan pekerjaan apa yang dilakukan, mengingatkan siswa untuk tidak membuang-buang waktupengerjaanproyek,menambah ataumengurangi kegiatan untukmemperkuatkecakapandalamkelompokdankecakapan dalammengelola danmendiskusikanbeberapaperbaikan.
6. Gambaranakhirprosespenjernihanair
Tahapinimemberikanhasilakhirdalamsuatuforum khusus,yaitu mendiskusikan ataumenuliskanhal-halyangpentingdariproses penjernihanair,menganjurkan perbaikanuntukprosespenjernihan selanjutnya.
2.1.6.KelebihanProjectBasedLearning
ProjectBasedLearningadalahpenggerakyangungguluntukmembantu siswabelajarmelakukantugas-tugasotentikdanmultidisipliner,menggunakan
sumber-sumberyangterbatassecaraefektifdanbekerjadengan oranglain. Pengalamandilapanganbaikdari gurumaupun siswabahwaProjectBased Learningmenguntungkandanefektifsebagaipembelajaranselainitumemilki nilai tinggidalam peningkatankualitas belajar siswa. Anatta (dalam Susanti,
2008)menyebutkanbeberapakelebihandariProjectBasedLearning diantaranya sebagaiberikut:
1. Meningkatkanmotivasi,dimanasiswatekun danberusahakerasdalam mencapai proyekdanmerasabahwabelajardalamproyeklebih menyenangkandaripadakomponenkurikulumyanglain.
2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, dari berbagai sumber yangmendeskripsikanlingkungan belajarberbasisproyekmembuatsiswa menjadilebihaktifdanberhasilmemecahkanproblem-problem yang kompleks.
3.Meningkatkan kolaborasi,pentingnyakerjakelompokdalamproyek memerlukansiswamengembangkan danmempraktikanketerampilan komunikasi. Teori-teorikognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskanbahwabelajaradalahfenomenasosial,danbahwa siswaakan belajarlebihdidalamlingkungankolaboratif.
4. Meningkatkanketerampilan mengelola sumber, bila diimplementasikan secarabaikmakasiswaakanbelajardan praktikdalammengorganisasi proyek,membuatalokasi waktudansumber-sumberlainseperti perlengkapanuntukmenyelesaikantugas.
2.1.7.KekuranganProjectBasedLearning
Menurut (Susanti, 2008) berdasarkan pengalaman yang ditemukan di lapanganProject BasedLearning memilikibeberapakekurangandiantaranya:
1. Kondisi kelas agak sulit dikontrol dan mudah menjadi ribut saat pelaksanaan proyekkarenaadanya kebebasanpadasiswasehingga memberi peluanguntukributdanuntukitudiperlukannyakecakapanguru dalampenguasaandanpengelolaankelasyangbaik
2. Walaupunsudahmengaturalokasiwaktuyangcukupmasihsaja memerlukan waktuyanglebihbanyakuntukpencapaianhasilyang maksimal.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas(Classroom Action Research). Menurut (Arikunto dkk, 2011: 58) “PTK adalah
penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuanmemperbaiki/meningkatkan mutu praktik pembelajaran”.Igak Wardani (2012) menyatakan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukanoleh guru di dalam kelas sendiri melalui refleksi, dengan tujuan untukmemperbaiki kinerja sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadimeningkat.Sedangkan menurut (Wiriaatmadja,2008:13) Penelitian Tindak Kelasadalah bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktekpembelajaran mereka dan melihat pengaruh nyatadari upaya itu. PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan yang menurut (Arikunto dkk,2011: 61) bertujuan untuk “meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran,mengatasi masalah pembelajaran, meningkatkan profesionalisme, danmenumbuhkan budaya akademik”
Ciri khas dari PTK Menurut (Arikunto dkk, 2011:62) diantaranya adalah :
PTK merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru.
Hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoritis atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran pembelajaran dikelas.
PTK hendaknnya dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di kelas.
Adannya kolaborasi antara praktisi (guru,kepala sekolah, siswa dll) dan penelitidalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusanyang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan.
PTK dilakukakan hanya apabila ada (a) keputusan kelompok dan komitmenuntuk pengembangan, (b) meningkatkan profesionalisme guru, (a) alas an pokok: ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan dan (d) bertujuanmemperoleh pengetahuan dan/atau sebagai pemecahan masalah.
Secara singkat, Penelitian Tindak Kelas adalah penelitian yang dilakukan guru atau praktisi yang memiliki tujuan memperbaiki pembelajaran di kelas serta meningkatkan mutu pembelajaran di kelas.Mutu pembelajaran dapat dilihat dari meningkatnya pemahaman konsep siswa.Pemahaman konsep yang meningkat dapat diukur dari hasil tes formatif, sub-sumatif dan sumatif.Masalah utama dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatan pemahaman konsep dan keterampilan pemecahan masalah matematika siswa dengan menerapkan Model Pembelajaran Project Based Learning Pada Pokok Bahasan Aritmatika Sosial. Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan profesionalisme guru SDdalam meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika di SMP, serta mampu menjalin kemitraan antara peneliti dengan guru SMP dalam memecahkan masalahyang terjadi dalam proses kegiatan belajar mengajar Matematika di kelas.
B. Setting Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di SMP Negeri 42 Bandung.
Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Nopember hingga bulan Desember 2015
Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 42 Bandung Tahun Pelajaran 2015/2016. sebanyak 32 orang siswa, terdiri dari 17 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki.
Jadwal Penelitian
C. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dirancang untuk dilaksanakan dalam 2 siklus.Siklus I dirancang untuk dilaksanakan dalam dua kali pertemuan kegiatan belajar mengajar (@3x35 menit) dan satu pertemuan untuk tes siklus di akhir pertemuan.
Siklus II dirancang untuk dilaksanakan dalam dua kali pertemuan kegiatan belajar mengajar (@3x35 menit) dan satu pertemuan untuk tes siklus diakhir pertemuan .Setiap siklus dijalankan dalam 4 tahap, yaitu perencanaan (Planning), pelaksanaan (Acting), pengamatan (Observing), dan refleksi (Reflecting).
Siklus I
1.Tahap Perencanaan
Membuat kesepakatan dengan guru (rekan sejawat) sebagai observer dan memberikan penjelasan kepada observer tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh observer dan penjelasan tentang intisari dari instrument lembar observasi yang harus diisi oleh observer.
Mengajukan permohonan izin penelitian kepada Kepala SDPN Pajagalan 58, KecamatanAstanaanyar, Kota Bandung .
Menetapkan subpokok bahasan yang akan digunakan dalam penelitian.
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika denganmenerapkan model pembelajaran Discovery Learning,
Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS)
Menyiapkan instrumen tes tertulis berupa lembar soal tes siklus I.
Menyiapkan instrumen non tes berupa lembar pengamatan siswa dan guru dalam pembelajaran.
2.Tahap Pelaksanaan
Memberikan lembar observasi kepada observer untuk diisi.
Melaksanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran discovery Learning
Melakukan tes siklus I untuk mendapatkan data mengenai pemahaman konsepdan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah matematika sekolah dasar dalam pembelajaranMatematika dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning.
Mencatat dan merekam semua aktivitas belajar yang terjadi oleh pengamatpada lembar observasi sebagai sumber data yang akan digunakan pada tahap refleksi.
Diskusi dengan pengamat untuk mengklarifikasi hasil pengamatan padalembar observasi.
3.Tahap Pengamatan
Observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan pendekatan kontekstual.
Observer mengisi lembar observasi.
4.Tahap Refleksi
Peneliti melakukan analisis terhadap semua data yang dikumpulkan dari penelitian tindakan pada siklus I. Setelah hasil pemahaman konsep siswa danpengamatan observer telah dikaji, selanjutnya pada siklus II, peneliti mengulang kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I. Temuan pada tahap refleksi pada siklus
I digunakan untuk memperbaiki RPP dan pembelajaran pada siklus II.
Siklus II
1. Tahap Perencanaan
Menginventarisir kekuatan dan kelemahan pada siklus I untuk dijadikanbahan perbaikan pada pelaksanaan siklus II.
Menetapkan sub pokok materi.
Membuat rencana pembelajaran dengan memperhatikan refleksi pada siklus I.
Menyiapkan media, alat peraga dan sumber pembelajaran.
Merancang kegiatan yang lebih variatif dalam LKS.
Menyiapkan instrumen tes siklus II.
Menyiapkan lembar pengamatan siswa dan guru dalam pembelajaran.
2. Tahap Pelaksanaan
Melaksanakan kegiatan pembelajaran siklus II sesuai dengan RPP yang telah disusun dengan mempertimbangkan perbaikan-perbaikan pada siklus I.
Melakukan tes siklus II untuk mendapatkan data hasil penigkatan pemahaman konsep siswa pada siklus II.
Mencatat dan merekam semua aktivitas belajar siswa sebagai sumber data yang akan digunakan pada tahap refleksi.
Diskusi dengan pengamat untuk mengklarifikasi data hasil pengamatan pada lembar observasi.
3. Tahap Pengamatan
Kegiatan pengamatan pada sikus II relatif sama dengan siklus I yaitu:
Mencatat dan merekam aktivitas belajar siswa oleh pengamat melalui lembar observasi.
Peneliti menyesuaikan apakah kegiatan yang dilakukan pada siklus II ini sudah sesuai dengan yang diharapkan.
4. Tahap Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap pengamatan dikumpulkan untuk dianalisis dan dievaluasi oleh peneliti, untuk mendapatkan suatu simpulan. Diharapkansetelah akhir siklus II ini, pemahaman konsep dan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika penerapanmodel pembelajaran Discovery Learning Kelas VISDPN Pajagalan 58 Kecamatan Astanaanyar Kota Bandung tahun pelajaran 2015/2016dapat meningkat.
5.Membuat Kesimpulan Hasil Penelitian
Setelah semua proses selesai dilaksanakan, maka dapat ditarik kesimpulan yang mengacu pada hasil penelitian dan pembahasan.
D.Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrument bentuk tes tertulis, RPP, LKS dan lembar observasi.
1.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP yang digunakan dalam penelitian kali ini ada dua, di mana setiap siklus terdiri dari satu RPP yang memiliki satu kali pertemuan(3@35 menit).RPP yang disusun disesuaikan dengan Kompetensi Dasar (KD).
2.Lembar Kerja Siswa(LKS)
LKS merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah dalam pembelajaran sehingga akan terbentuk aktivitas dan interaksi yang efektif antarasiswa dan guru.Dengan adanya LKS maka siswa akan mengalami kegiatan proses berpikir yang akan meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. LKS yangdigunakan dalam penelitian ini adalah LKS mata pelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.Setiap siklus memiliki satu kali LKS yang akan dipraktikkan oleh siswa.
3.Lembar Observasi
Obsevarsi yang dilakukan pengamat adalah melihat kegiatan belajar mengajar guru dan siswa pembelajaran Matematika dalam menerapkan model pembelajaran Discovery Learning.Lembar obeservasi yang digunakan berbentuk lembar observasiterbuka yang harus diisi oleh pengamat secara naratif pada kolom deskripsi yang sesuai dengan item pertanyaan/ pernyataan.Teknik observasi yang dilakukan adalah observasi langsung, yakni pengamat mengamati dan mencatat objek yang diteliti (aktivitas guru dan siswa) selama proses pembelajaran.
4.Tes Tertulis
Tes Tertulis yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui pemahaman konsep siswa pada ranah kognitif menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.Tes dilaksanakan setiap akhir siklus dalam bentuk uraian yang digunakakan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan penyelesaian soal-soal pemecahan masalah siswa.
F.Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan melalui instrument instrumen penelitian yaitu instrumen lembar observasi dan instrumen tes bentuk uraian.Observasi dilakukan tiga orang pengamat agar mengurangi bias data penelitian melalui instrumen lembar observasi. Lembar observasi digunakan untuk
mengamati kegiatan belajar mengajar siswa dan guru dalam pembelajaran matematika tentang materi jaring-jaring kubus dan balok sekolah dasar dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Sedangkan instrumen tes bentuk uraian pada setiap siklus digunakan untuk menilai pemahaman konsep dan keterampilan penyelesaian soal-soal pemecahan masalah sekolah dasarsederhana pada aspek kognitif menggunakan model pembelajaran Discovery Learning.
G.Pengolahan dan Analisis Data
Data-data dari hasil penelitian dikumpulkan, diolah dan dianalisis data dari awal penelitian sampai akhir pelaksanaan tindakan.Ada dua jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian yaitu data kualitatif dan kuantitatif.
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yang diujikan pada penelitian kali ini ada tiga yaitu pengelolaan hasil belajar, menghitung presentase ketuntasan belajar dan peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan indeks gain <g>.
a. Pengelolaan data hasil belajar
Tes tertulis dilakukan setiap siklus, untuk mengetahui rata-rata hasil belajarsiswa pada mata pelajaran matematika melalui penerapan pendekatan kontekstual.model pembelajaran Disecovery Learning.Tes tertulis tiap siklus dilaksanakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata hasil belajar siswa adalah:
n : jumlah siswa
b. Menghitung Prosentase Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar siswa ditentukan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan. Prosentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal dapat
ditentukan dengan rumus :
Keterangan :
c. Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa
Data kuantitatif berasal dari skor siklus I, skor siklus II dan gain ternormalisasi. Hali ini dilakukan untuk mengetahui besarnya peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa pada penelitian ini, maka dilakukan analisis terhadap hasil skor siklus I dan skor siklus II. Analisis dilakukan dengan menggunakan indeks gain dengan lambang <g>. Adapun rumus untuk gain ternormalisasi menggunakan rata-rata (average normalized gain) oleh Hake (2007) yang dianggap lebih efektif sebagai berikut:
gain ternormalisasi<g> =
Klasifikasi gain ternormalisasi adalah:
2.Data Kualitatif
Data kualitatif diperoleh dari lembar pengamatan aktivitas siswa dan guru dalam pembelajaran di kelas, berupa lembar pengamatan terbuka, pengamatdeskripsi jawaban dalam bentuk narasi pada kolom yang sesuai dengan itempertanyaan/ pernyataan pada lembar observasi. Dalam penelitian ini dilibatkantiga pengamat.Hal ini bertujuan untuk mengurangi bias data hasil pengamatan.Data kualitatif ini diolah dengan cara menerjemahkan dan mendiskusikan denganpengamat jika terdapat jawaban yang belum jelas. Selanjutnya, penelitimengelompokkan jawaban pengamat yang positif dan negatif dari setiap itempertanyaan/pernyataan.Apabila banyak pengamat yang menjawab positif lebihbanyak dari yang menjawab negatif, berarti kegiatan guru atau siswa dalampembelajaran sudah sesuai dengan harapan penelitian.Tetapi, jika yang terjadibanyaknya jawaban yang negatif berarti masih perlu banyak perbaikan agar dapatsesuai dengan harapan penelitian.Selain itu data kualitatif juga diperoleh dariangket siswa yang disi oleh masing-masing siswa setiap akhir siklus.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, D, 2001, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya : Karya
Abditama.
Darhim, Drs.,dkk, 1991, Pendidikan Matematika 2, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan Nasional, 2004, Matematika, Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004, Jakarta
Kasbollah K, 1998 – 1999, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Dikti Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Ruseffendi, E.T, Prof., S.pd.,M.Sc., P.Hd., dkk, 1992, Pendidikan Matematika 3, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suherman, E, Drs., M.Pd., dan Winataputera, Udin S, Drs., M.A., 1992-1993, Strategi Belajar Mengajar Matematika, Jakarta : Departemen Pendidikan Kebudayaan.
Sumantri, B., 1988, Metode Pengajaran Matematika Untuk Sekolah Dasar, Jakarta : Erlangga
Suherman, E, dkk, 1991, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,Bandung : Jurusan Pendidikan Matematika UPI Bandung
Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran, Jakarta.
Safari, drs, MA., 2003, Evaluasi Pembelajaran, Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Tenaga Kependidikan.
Sudjatmiko, Drs,. 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam Menunjang Kecakapan Hidup Siswa,Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan
Rahadi,A, Drs., 2003, Media Pembelajaran, Jakarta : Departemen Pandidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan
Wibawa, B, Dr., 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Departemen Pandidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Tenaga Kependidikan
Indrawan Rully, Prof, Dr, M.Si dan Yaniawati Poppy R, Prof, Dr, M.Pd, 2014, Metodologi Penelitian , Bandung : PT Reflika Aditama